Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

11 Bulan Tak Dibayar, Kontraktor Tol Soroja Demo di Tol

Kamis 12 Jul 2018 13:42 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Dwi Murdaningsih

Pengendara Mobil antusias menggunakan tol Soreang-Pasirkoja (Soroja), Selasa (5/12). Hingga pukul 10.00 WIB total dari dua jalur sudah mencapai 700 kendaraan yang melintas.

Pengendara Mobil antusias menggunakan tol Soreang-Pasirkoja (Soroja), Selasa (5/12). Hingga pukul 10.00 WIB total dari dua jalur sudah mencapai 700 kendaraan yang melintas.

Foto: Republika/Fauzi Ridwan
PT CBS sebelumnya sudah melakukan beberapa kali mediasi dengan PT Wika.

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG- Sebelas bulan tak dibayarkan hasil pekerjaannya oleh PT Wijaya Karya (Wika), belasan orang yang merupakan kontraktor PT Citra Bangun Selaras (CBS), BUMD yang menangani tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) serta dari subkontraktor lainnya demo di depan pintu masuk-keluar menuju gerbang tol Soreang, Kamis (12/7). Mereka menuntut sisa pembayaran hasil pekerjaan, yang belum dibayarkan sebesar Rp 19 miliar lebih sejak September 2017.

Belasan pengusaha tersebut membawa spanduk bertuliskan tuntutan pembayaran kepada PT Wika. Mereka berjajar di samping jalan perempatan Jln. Al Fathu, Soreang, atau tepatnya satu kilometer dari exit Tol Soreang. Tidak berselang lama, ditengah-tengah aksi salah seorang anggota DPRD Kabupaten Bandung menyarankan agar aksi dihentikan dan dilanjutkan audiensi di Kantor DPRD Kabupaten Bandung.

Hal itu dilakukan agar tidak mengganggu akses pengendara Tol Soroja. Kemudian, belasan pendemo tersebut berjalan kaki menuju gedung DPRD Kabupaten Bandung untuk audiensi.

Direktur PT CBS, Eri Rusmana mengungkapkan sisa tunggakan PT Wika yang belum dibayarkan kepada PT CBS dan subkontraktor lainnya kurang lebih Rp 19 miliar. Katanya, terdapat 13 vendor yang ikut serta membantu CBS. Dengan delapan vendor diantaranya belum menerima pembayaran dari PT Wika.

Menurutnya, PT CBS sebelumnya sudah melakukan beberapa kali mediasi dengan PT Wika. Bahkan hingga ke Kejaksaan Negeri. Namun, dalam mediasi tersebut tidak menemukan kesepakatan.

"Kalau tidak dibayar, kami akan terus melakukan aksi serupa di akses Tol Soreang. Tadinya kami ingin menutup jalan tol, tapi menghargai juga karena ada wakil rakyat," katanya.

Dirinya berharap agar DPRD Kabupaten Bandung bisa mendukungnya. Sehingga pihaknya tidak jadi menutup tol dan mengikuti keinginan DPRD untuk audiensi.

Ia menambahkan, pihak PT Wika beralasan belum membayar karena volume yang diajukan oleh PT CBS tidak sesuai as build drawing dan tidak sesuai hitungan mereka. Namun, versi PT Wika sendiri hitungannya belum ada.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA