Tuesday, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Tuesday, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Pedagang: Harga Telur Semakin Mencekik Leher

Kamis 12 Jul 2018 01:10 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Andri Saubani

Petugas dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak ketersediaan telur ayam di pasar Pahing, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (10/7).

Petugas dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan inspeksi mendadak ketersediaan telur ayam di pasar Pahing, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (10/7).

Foto: Antara/Prasetia Fauzani
Harga telur di Karawang tembus Rp 34 ribu per kilogram.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Sejumlah pedagang sayuran di Kabupaten Karawang, mengeluhkan harga telur ayam yang semakin mahal. Saat ini, harga komoditas tersebut sudah mencapai Rp 34 ribu per kilogram. Dengan kondisi tersebut, pedagang kecil terpaksa mengurangi pembelian telur.

Eka Nurohmah (29 tahun) pedagang sayuran di Perum Kondang Asri Blok E3, Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, mengatakan, mulai haru ini harga telur menembus Rp 34 ribu per kilogram. Harga tersebut, diketahui ibu dua anak ini, setelah berbelanja kebutuhan warungnya di salah satu toko grosir yang ada di wilayah tersebut.

 

"Bagaimana ini, harga telur semakin mencekik leher," ujarnya, kepada Republika, Rabu (11/7).

 

Dengan harga yang semakin mahal ini, Eka kebingungan menjual telur untuk para pelanggannya. Sebab, jika di ecer satuan, harganya bisa di atas Rp 3.000 per butirnya. Sedangkan jika dijual minimalnya seperempat, suka jarang yang membeli.

 

Karena itu, lanjut Eka, terpaksa dirinya hanya membeli telur dua kilogram. Pertama, untuk mengantisipasi bila terjadi aksi protes dari para pelanggannya. Sebab, bila protes maka ibu-ibu di komplek perumahannya akan mengurungkan membeli telur.

 

"Mereka bisa saja beralih, tadinya akan membeli telur bisa ke teri, pindang ataupun tahu tempe," ujarnya.

 

Selain itu, dengan membeli telur dua kilogram ini, dirinya menyiasati bila terjadi pembusukan terhadap telur. Dampak dari sepinya yang membeli komoditi ini.

 

Ibu rumah tangga asal Perum Nirwana Indah, Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur, Anis Anisah (27 tahun) mengatakan, harga telur di warung atau pun pasar tradisional jauh lebih malah. Karena itu, dirinya terus mencari informasi tentang harga telur di sejumlah swalayan.

 

"Kalau di swalayan, suka ada potongan harga, jadi saya lebih sering beli telur di pasar modern itu. Tetapi, ukurannya jauh lebih kecil ketimbang telur di warung ataupun pasar tradisional," ujar Anis.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES