Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Selasa, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Sekjen PDIP: Tangkal Politik Uang di Pilkada Jatim

Senin 25 Jun 2018 18:55 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Bayu Hermawan

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto.

Foto: Republika/Febrian Fachri
Sekjen PDIP menginstruksikan seluruh jajaran mewaspadai serangan fajar di pilkada.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menginstruksikan seluruh jajaran partainya untuk melipatgandakan kewaspadaan menjelang hari coblosan Pilkada Jawa Timur 2018. Pernyataannya ini menganggapi terjadinya serangan fajar menyambut pesta demokrasi.

"Seluruh pengurus PDIP, kader, simpatisan, calon-calon legislatif dan semua saksi, harus terjaga, kewaspadaan harus ditingkatkan. Kita jaga proses demokrasi ini berjalan jujur dan adil. Tangkal politik uang dan kecurangan," kata Hasto, Ahad (25/6).

Menurutnya, sebagai partai politik (Parpol) yang mengusung pasangan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Soekarno sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur berkepentingan untuk menjaga jalannya proses demokrasi. Semoga katanya, Pilkada Jatim dapat berjalan dengan baik dan benar serta masyarakat tidak diintervensi oleh apapun termasuk politik uang.

"Biarkan aspirasi rakyat berjalan normal, alamiah, tanpa intervensi apa pun," ujarnya.

Oleh karena itu, Hasto juga mengimbau agar semua kader dan pengurus PDI Perjuangan melakukan ronda. Tujuannya untuk menjaga lingkungan masing-masing bersama warga masyarakat berkeliling dan berjaga secara bergantian untuk menangkal serangan fajar tersebut. "Kalau ketemu, tangkap dan laporkan pada Pengawasa Pemilu atau polisi," tegasnya.

Kota Surabaya kata Hasto juga, telah muncul gerakan anti-politik uang di lingkungan RW 06 dan RW 07, Kelurahan Asem Rowo. Warga kata dia, beramai-ramai membuat spanduk untuk menolak politik uang.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Satgas Anti-Politik Uang di Asem Rowo, Muharrom. Menurut Muharram gerakan tersebut sengaja dilakukan untuk menghindari politik uang baik dengan sambako maupun ampol jelang pesta demokrasi. "Kami ingin Pilkada Jawa Timur bersih dari kecurangan dan penyelewengan. Jangan ada sembako, amplop, atau apa pun bentuknya, yang masuk ke kampung kami untuk mempengaruhi pilihan warga," kata Muharrom.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES