Kamis, 6 Zulqaidah 1439 / 19 Juli 2018

Kamis, 6 Zulqaidah 1439 / 19 Juli 2018

KLHK Ciptakan Hujan Buatan di Sumsel Jelang Asian Games

Selasa 19 Juni 2018 12:04 WIB

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Muhammad Hafil

Hujan Buatan

Hujan Buatan

Foto: BPPT
Para pemangku kepentingan bahu-membahu mencegah karhutla.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus memantau hot spot atau titik panas di daerah Sumatera Selatan dan sekitarnya. Pemantauan ini dilakukan menjelang perhelatan Asian Games, Agustus mendatang yang juga akan diselenggarakan di kota Palembang.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles Brotestes Panjaitan mengatakan bahwa pihaknya memang secara khusus melakukan pemantaun titik panas di Provinsi Sumsel agar pada saat penyelenggaran Asian Games nanti tidak ada permasalahan dikarenakan asap dari kebakaran hutan.

"Untuk Palembang (dan sekitarnya) kita sudah siapkan tim patroli Manggala Agni. Kita juga upayakan dilakukannya hujan buatan di sana, untuk mengantisipasi jangan sampai ada kekeringan," kata Raflles dihubungi Republika.co.id, Selasa (19/6).

Raffles menuturkan, beberapa daerah yang sekarang rawan terjadi kebakaran hutan terdapat di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Lahat, dan Banyuasin karena di daerah ini terdapat banyak lahan gambut. Guna mengantisipasi kebakaran hutan KLKL bekerjasama dengan pemerintah provinsi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan sejumlah perusahaan swasta telah menyiapak sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya adalah penyediaan helikopter.

Di Sumsel KLHK dan pihak lainnya menyiapka empat helikopter yang bisa digunakan untuk pemantauan langsung dari udara. Tiga helikopter bahkan bisa mengangkut air dengan kapasitas sekitar 3.000-3.500 liter, sehingga ketika ada titik api yang baru muncul bisa langsung dipadamkan dengan cara water boombing.

Selain di Provinsi Sumatera Selatan, pesawat helikopter pun disiapkan di Provinsi Riau yang juga menjadi salah satu daerah rawan kebakaran hutan. Di sana sudah disiapkan sedikitnya delapan pesawat di antaranya satu miliki KLHK, tiga unit dari BNPB, dan tiga unit dari perusahaan swasta seperti Sinarmas yang memang memiliki lahan untuk diproduksi. Perusahaan swasta seperti ini sudah diminta untuk membantu memadamkan lahan maupun melakukan pencegahan agar tidak ada sumber kebakaran di lahan yang digunakan.

Raffles mengatakan, beberapa waktu lalu sempat terpantau ada titik panas di Desa Muara Medak, Musi Banyuuasin. Titik panas ini dikarenakan aktivitas masyarakat sekitar yang melakukan pembukaan lahan. Namun saat diketahui, KLHK langsung melakukan water boombing agar titik panas tidak meluas.

Akhir pekan kemarin, Ahad (17/6), Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya sudah turun ke lapangan memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pemantauan lewat udara ini dilakukan di beberapa titik rawan Karhutla di Pulau Sumatera.

Menurutnya, setiap hari tim dari Manggala Agni KLHK, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan sejumlah pihak lainnya bahu membahu tanpa kenal lelah mengatasi Karhutla di musim kemarau seperti saat ini.

"Meski masih dalam suasana libur lebaran, namun tim lapangan ini tetap bekerja keras menjaga Indonesia bebas bencana asap," ujar Siti melalui siaran pers.

Siti menjelaskan, tim udara siap siaga di beberapa provinsi rawan, khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Per tanggal 16 Juni 2018, sudah ada 17 unit helikopter water boombing siaga di empat provinsi yang telah menetapkan status darurat. Adapun water boombing yang telah dilakukan, telah dijatuhkan sebanyak 6.874.400 liter air. Diantaranya di Riau dan Sumatera Selatan.

Kegiatan hujan buatan juga telah dilakukan sejak tanggal 16 Mei-9 Juni 2018 dengan total garam yang dijatuhkan sebanyak 32 ton di Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, PALI dan OKI, Provinsi Sumatera Selatan.

Hingga 15 Juni 2018 tidak terdeteksi asap lintas batas. Sementara pada tanggal 16 Juni 2018 tidak terdeteksi adanya asap karhutla, sedangkan untuk kualitas udara dalam kategori baik hingga sedang. "Meski begitu tidak boleh ada kata lengah untuk memastikan titik api tidak meluas," kata Siti.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA