Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Omzet Pedagang Pakaian di Pasar Pematangsiantar Turun

Kamis 14 Juni 2018 15:50 WIB

Red: Nidia Zuraya

Pedagang pakaian mendapat omzet berkali lipat selama bulan Ramadhan. (ilustrasi)

Pedagang pakaian mendapat omzet berkali lipat selama bulan Ramadhan. (ilustrasi)

Foto: Antara/Edi Suhaedi
Para pedagang pakaian ini mengaku kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern.

REPUBLIKA.CO.ID, PEMATANGSIANTAR -- Momentum Lebaran yang hanya datang sekali setahun biasanya membawa berkah bagi para pedagang, terutama mereka yang berjualan pakaian. Namun, tidak demikian halnya yang dirasakan oleh para pedagang pakaian di pusat perbelanjaan tradisional, seperti Pasar Horas Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara.

 

Para pedagang mengaku omzet mereka pada Ramadhan dan menjelang Idul Fitri 1439 Hijriyah/2018 Masehi menurun. "Tidak sesuai yang kami harapkan, separuhnya saja tidak tercapai," kata SM Sinaga di Gedung II Lantai II, Kamis (14/6).

 

Pria yang sudah membuka usaha pangan lebih dari 20 tahun itu mengatakan, kunjungan pembeli ke Pasar Horas pada momen Ramadhan, terutama H-7 Idul Fitri, meningkat jika dibandingkan hari-hari atau pada akhir pekan. Namun, katanya, jika merujuk pada era tahun 1990-an, perbandingan cukup signifikan dan pedagang kewalahan melayani permintaan pembeli, bahkan untuk melintas pun sulit.

 

Seiring waktu terus menurun dan pada era 2000-an makin berkurang, momen yang menjadi harapan pada perayaan Idul Fitri, tahun ajaran baru, dan akhir tahun. Menurut MP Pakpahan, pedagang sandang lainnya, keberadaan perbelanjaan modern, pakaian bekas (monza), dan rumah tinggal yang dijadikan butik menjadi penyebab menurunnya keinginan berbelanja ke Pasar Horas.

 

"Apalagi saat ini lagi tren belanja sistem online (daring), kami semakin tersingkirkan," katanya.

 

Sejumlah kaum ibu dari kawasan pinggiran kota mengaku masih lebih memilih berbelanja di pasar tradisional karena adanya komunikasi dua arah sehingga memberikan kepuasan tersendiri. "Ada tawar-menawar harga, dan kalau sesuai, rasanya kita puas. Beda kalau di supermarket, pilih-pilih, cocok harga, bayar, gak ada ngomomg-ngomongnya," kata Rukiyah (57), warga Martoba, Pematangsiantar.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES