Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Senin, 4 Syawwal 1439 / 18 Juni 2018

Sulitnya Mengembangkan Bandara Perintis di Jawa

Jumat 15 Juni 2018 01:10 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Friska Yolanda

Bandara Tunggul Wulung.

Bandara Tunggul Wulung.

Maskapai kesulitan mendapat slot penerbangan di bandara tujuan.

REPUBLIKA.CO.ID, Bandara Tunggul Wulung Cilacap, Jawa Tengah, sudah dibangun sejak puluhan tahun silam. Saat ini, kondisi bandara sudah memiliki fasilitas yang cukup memadai. Dengan panjang runway hingga 1.400 meter dan lebar 30 meter, bandara ini sudah bisa didarati berbagai jenis pesawat berbadan besar.

Pesawat yang secara rutin mendarat dan melakukan penerbangan dari bandara ini, adalah pesawat jenis ATR 72-600. Selain itu, pesawat kecil jenis grand carravan juga sering bolak-balik bandara tersebut.

Namun, dengan usia dan perkembangan fasilitas sarana bandara yang ada, masih tidak seimbang dengan lalu lintas penerbangan di bandara tersebut. Hingga kini, maskapai yang rutin memanfaatkan Bandara Tunggul Wulung, hanya maskapai Susi Air yang melayani rute Cilacap-Jakarta. 

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji menyebutkan, wilayah Kabupaten Cilacap dikenal sebagai kota Industri. Cilacap menjadi tempat berdirinya berbagai macam industri strategis. Ada kilang minyak Pertamina yang merupakan penghasil BBM terbesar di Tanah Air, juga ada PLTU Batubara juga dengan produksi listrik sangat besar. "Dengan kondisi seperti ini, Bandara Tunggul Wulung sangat berpotensi untuk berkembang," kata Tatto, belum lama ini.

Baca juga, Maskapai Trans Nusa Buka Rute Cilacap-Semarang

Kondisi ini tidak membuat Bandara Tunggul Wulung menjadi lebih menarik. Selain Susi Air, ada pesawat dari Pelita Air yang juga melayani rute Jakarta-Cilacap, dan maskapai Trans Nusa yang melayani rute Jakarta-Cilacap-Semarang.

Seluruh maskapai yang melayani rute Jakarta-Cilacap rupanya bukan penerbangan umum komersial. Penerbangan ini hanya carteran, atau penerbangan yang sudah dipesan oleh pihak pemborong. Masyarakat yang ingin memanfaatkan penerbangan itu hanya bisa membeli tiket melalui pemborongnya.

Direktur Operasional Maskapai Trans Nusa Bayu Sutanto, mengakui hal itu. Dia menyebutkan, sulitnya mengembangkan bandara perintis di Jawa, antara lain karena sulit mendapat slot penerbangan dari bandara yang ada di Jakarta. "Kami kesulitan untuk mendapatkan slot penerbangan dari Halim maupun Soekarno Hatta," jelasnya.

Dia meyakini, rute penerbangan Jakarta-Cilacap sebenarnya merupakan rute yang cukup gemuk bila dapat dimanfaatkan dengan baik. Masyarakat yang memanfaatkan bandara ini tidak hanya dari Cilacap, melainkan juga dari Banyumas, Kebumen, Banjarnagara dan Purbalingga yang ekonomi masyarakatnya relatif maju.

Dia meyakini, pangsa pasar di rute ini akan tetap feaseble meski ada dilakukan penerbangan Cilacap-Jakarta PP hingga tiga kali sehari dengan menggunakan pesawat jenis ATR 72 berkapasitas 70 orang.

"Tapi ya itu tadi, kita dari maskapai yang mengoperasikan pesawat jenis menengah ke bawah, kesulitan mendapatkan slot penerbangan dari Bandara Halim maupun Soekarno Hatta," katanya.

Terkait masalah ini, Bayu mengaku, sebelumnya pernah ada wacana agar di bandara Pondok Cabe yang ada di Jakarta bisa dimanfaatkan menjadi bandara umum khusus penerbangan pesawat ukuran sedang dan kecil. Namun, lanjutnya, hingga saat ini hal tersebut belum terwujud.

Selain ke Jakarta, Trans Nusa juga membuka rute baru Cilacap-Semarang. Pembukaan rute ditandai dengan pencucian pesawat ATR 72-600.

Bayu menyebutkan, penerbangan rute Semarang-Cilacap merupakan rute yang dijual resmi. Artinya, masyarakat yang hendak membeli tiket bisa melalui biro perjalanan. Berbeda dengan rute Cilacap-Jakarta yang hanya rute yang dipesan terlebih dulu.

Bayu mengaku optimistis bahwa rute Cilacap-Semarang memiliki potensi pasar yang cukup besar. "Saat ini, perjalanan Cilacap-Semarang, membutuhkan waktu tempuh tujuh sampai delapan jam. Ini tentu sangat melelahkan," katanya.

Dengan menggunakan pesawat Trans Nusa, jarak Semarang-Cilacap bisa ditempuh hanya dalam waktu 55 menit. Jalur penerbangannya dilakukan dengan menjelajahi wilayah udara pantai selatan Jawa, dan baru berbelok ke utara setelah melintasi Gunung Merapi yang ada di Yogyakarta. Jalur ini juga dilalui saat perjalanan balik, Semarang-Cilacap.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES