Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Risma Sebut Pelaku Teror Berupaya Rusak Pembangunan Surabaya

Jumat 01 Jun 2018 17:13 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Bilal Ramadhan

Walikota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) menyapa sejumlah anak yang mengikuti upacara hari jadi Kota Surabaya ke-725 di Taman Surya, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (31/5).

Walikota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) menyapa sejumlah anak yang mengikuti upacara hari jadi Kota Surabaya ke-725 di Taman Surya, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (31/5).

Foto: Antara/Zabur Karuru
Para pelaku teror juga menurutnya mengoyak sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berpendapat, para pelaku serangan bom di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya telah mencoba mengoyak hasil kinerja kolektif pembangunan kota. Para pelaku teror juga menurutnya mengoyak sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa.

Risma juga menganggap mereka sengaja merusak rasa aman dan nyaman Surabaya sebagai salah satu kota teraman di dunia. Namun, kenyataan pahit ini harus kita hadapi dan bahkan harus menjadi cambuk untuk meneguhkan persatuan dan kesatuan segenap insan di Kota Surabaya.

"Kini saatnya kita berdiri dan bergandengan, kita bersaudara," kata Risma di Surabaya, Jumat (1/5).

Pemerintah Kota Surabaya baru saja memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-725 pada Kamis (31/5). Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu pun mengajak seluruh masyarakat untuk lebih maju dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan, ia juga ingi membuktikan kepada dunia bahwa kebersamaan di Surabaya bisa mewujudkan cita-cita pendiri bangsa. Sebab, Bangsa ini bukan bangsa yang lemah, yang menerima kemerdekaaan sebagai hadiah penjajah. Itu telah dibuktikan 725 tahun lalu dan 10 November 1945, dimana Surabaya telah berhasil mengusir Balatentara terkuat dunia.

Inilah yang harus kita contoh, dengan satu tekad, gigih berjuang dan pantang menyerah tanpa mengenal perbedaan apapun. Serta tidak pernah peduli akan keterbatasan atau halangan yang menghambat kemajuan, ujar Risma.

Perempuan kelahiran Kediri itu pun mengaku sangat bersyukur atas soliditas warga kota dengan segenap pemangku kepentingan Surabaya yang sungguh luar biasa. Sehingga, dunia ekonomi dan bisnis di Kota Surabaya sudah bergerak dengan masif setelah serangan teror itu.

"Demikian juga mobilitas dalam dan luar negeri serta implementasi dari investasi yang diakuinya juga telah berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Saya pastikan kondisi Kota Surabaya saat ini sudah kembali pulih," kata Risma.

Ia menambahkan, tantangan terbesar ke depan yang dihadapi dalam upaya membangun Surabaya yakni dibutuhkannya daya kreativitas tinggi. Itu semua menurutnya harus ditunjang kerja keras pantang menyerah, serta mau belajar dari berbagai pengalaman untuk menggapai keberhasilan.

"Kita harus membudayakan disiplin dan toleransi. Dimulai dari diri sendiri, baik di rumah maupun sekolah serta di jalan raya. Jangan ada korban karena tak disiplin dan merasa benar sendiri," kata Risma.

Risma melanjutkan, saat ini, warga Kota Surabaya mengemban misi untuk mengalahkan musuh bersama yang sesungguhnya, yaitu kemiskinan dan kebodohan. Sebab, apabila itu tidak bisa dikalahkan, menurutnya masyarakat Surabaya akan mengalami penjajahan kembali.

"Yakni hanya menjadi penonton atau pelayan atau bahkan akan mengalami devide et impera atau adu domba di kota sendiri. Kita dan para Pahlawan, tentu ingin AnakAnak menjadi pemenang, bukan penonton," ujar Risma.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES