Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

'Masak Sebelah Timur Makam Korban Bom, Barat Makam Pelaku'

Jumat 18 May 2018 16:23 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Indira Rezkisari

Novi (kanan) kakak dari Daniel Agung Putra Kusuma korban bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) berada disamping pusara ketika pemakaman di Makam Putat Gede Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5).

Novi (kanan) kakak dari Daniel Agung Putra Kusuma korban bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) berada disamping pusara ketika pemakaman di Makam Putat Gede Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5).

Foto: Antara
Bagi warga Sawahan Surabaya insiden bom menimbulkan trauma mendalam.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Camat Sawahan M. Yunus turut mengomentari penolakan yang dilakukan warga Putat Jaya, RT 03, RW 08, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, terkait pemakaman jenazah pelaku pengeboman di tiga gereja di Surabaya. Yunus mengaku tidak bisa memaksa warga menerima jenazah para terduga teroris tersebut.

Yunus mengerti bagaimana perasaan masyarakat sekitar TPU yang bersikeras menolak dimakamkannya para terduga teroris di sana. Bagaimana tidak, salah satu gereja yang dibom berada di Kecamatan Sawahan. Gereja yang dimaksud adalah Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Jalan Arjuno.

Apalagi salah satu korban dalam ledakan tersebut merupakan warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. "Jadi saya pikir sangat wajar warga saya menolak," ujar Yunus saat ditemui di Kantor Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jumat (18/5).

Menurut Yunus, alasan warga menolak pemakaman jenazah terduga teroris masuk akal. Korban ledakan bernama Daniel Agung Putra Kusuma dimakamkan di tempat pemakaman yang sama dengan rencana makam para pelaku. Daniel merupakan salah satu korban meninggal dunia pada ledakan bom di Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Jalan Arjuno, Surabaya.

"Korban Daniel itu dimakamkan di sana di sebelah timur. Masak sebelah barat mau dikasih ke yang teroris atau yang ngebom. Efeknya nanti luar biasa. Itu lho makam yang ngebom, yang dulu ngebom gereja. Wong bukan Mr X jelas identitasnya," kata Yunus.

Ditambah lagi, terduga teroris yang hendak dimakamkan bukan merupakan warga sekitar. Ditambah lagi jenazah para terduga teroris sudah ditolak oleh warga tempat mereka tinggal. "Wong keluarganya saja nolak lha hubungannya sama warga saya apa?" ujar Yunus.

Yunus juga menyatakan dia tidak akan menyanggupi jika diminta bernegosiasi dengan warga agar mau menerima unuk memakamkan jenazah para terduga teroris tersebut. Ia pengeboman di tiga gereja di Surabaya menimbulkan trauma bagi masyarakat.

"Makanya kalau saya diminta negosiasi lagi saya angkat tangan. Karena saya memahami kalau saya berada di posisi warga. Salah satunya trauma warga saya ini," ujar Yunus.

Warga Putat Jaya, RT 03, RW 08, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, menolak pemakaman jenazah pelaku teror yang melakukan pengeboman di tiga gereja di Surabaya. Akibatnya, tujuh liang lahat yang telah digali oleh petugas dari Pemkot Surabaya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Putat Jaya, dikubur kembali oleh warga sekitar secara bergotong royong.

Alasan warga sekitar menolak pemakaman jenazah terduga teroris adalah karena tidak ingin di sekitarnya terdapat makam teroris. Warga Putat Jaya semakin menolak pemakaman jenazah terduga teroris di TPU Putat Jaya lantaran, salah satu dari korban ledakan merupakan warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan.

Korban yang dimaksud adalah Daniel Agung Putra Kusuma. Daniel merupakan salah satu korban meninggal dunia pada ledakan bom di Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Jalan Arjuno, Surabaya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES