Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Batan Kaji Limbah Radioaktif Jadi Baterai Nuklir

Kamis 19 April 2018 22:50 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (23/4).

Kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (23/4).

Foto: Antara/BNPT/RN
Baterai nuklir adalah sebuah alat atau perangkat yang dapat menghasilkan listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) sedang melakukan kajian terhadap pemanfaatan limbah radioaktif untuk dijadikan bahan pembuat baterai nuklir sebagai sumber listrik.

"Baterai nuklir adalah sebuah alat atau perangkat yang dapat menghasilkan listrik dari radiasi zat radioaktif, berbeda dari PLTN yang menghasilkan listrik dari reaksi pembelahan inti atom dari bahan-bahan nuklir seperti uranium dan torium," kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto di Yogyakarta, Kamis (19/4).

Usai rapat koordinasi pengolahan limbah radioaktif di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), Djarot mengatakan ke depan limbah yang terkumpul di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) dapat dimanfaatkan.

Sesuai dengan PP 61 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Limbah Radioaktif, Batan dapat memanfaatkan limbah radioaktif, yang selama ini tersimpan di gudang.

"Ide pembuatan baterai nuklir sebenarnya meniru yang dilakukan lembaga antariksa Amerika Serikat (AS), NASA, yang menggunakan bahan nuklir sebagai baterai tahan lama dan tahan cuaca," katanya.

Menurut dia, baterai nuklir yang memanfaatkan limbah radioaktif itu akan sangat bermanfaat bagi daerah terluar dan terpencil, dengan syarat tingkat keselamatannya harus dijamin. Tantangannya adalah harus memodifikasi limbah sesuai dengan bentuk dan ukuran baterai.

"Baterai nuklir umumnya tidak memiliki cairan atau pasta yang bersifat pengantar listrik dan elektroda-elektrodanya tidak termakan oleh reaksi kimia seperti yang terjadi pada baterai kimia yang umum dikenal," katanya.

Ia mengemukakan, daya listrik yg dihasilkan baterai nuklir tergantung pada daya radiasinya. Semakin besar daya radiasi, maka semakin besar daya listrik yang dihasilkan.

Contohnya, plutonium-238 mempunyai daya radiasi sebesar 560 watt setiap kilogramnya yang dapat dijadikan bahan baterai nuklir jenis RTG yang menghasilkan listrik sebesar 25-40 watt. Daya radiasi plutonium itu akan berkurang menjadi separuhnya setelah 88 tahun sesuai dengan waktu paruhnya.

Secara umum, kata Djarot, semakin panjang waktu paruh, semakin kecil daya radiasinya. Zat radioaktif dengan waktu paruh sangat panjang seperti uranium dan torium memiliki daya radiasi yang sangat kecil.

Dengan demikian, baterai yang dibuat menggunakan uranium maupun torium akan menjadi jauh lebih berat dan lebih besar dari baterai nuklir yg dibuat menggunakan zat radioaktif dengan waktu paruh pendek.

"Selain daya radiasi, pemilihan bahan untuk pembuatan baterai nuklir juga perlu mempertimbangkan bahaya radiasi sehingga biasanya dipilih zat radioaktif yang radiasinya mudah ditahan oleh penahan radiasi yang ringan," katanya.

Ia mengatakan, Batan adalah lembaga yang melakukan pengelolaan limbah radioaktif yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Jumlah limbah radioaktif di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat.

Hal itu diakibatkan meningkatnya penggunaan bahan radioaktif di masyarakat, baik untuk keperluan penelitian, kesehatan maupun industri.

"Mengingat sifatnya yang memancarkan radiasi, limbah radioaktif harus dikelola secara khusus dengan mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku demi menjaga keselamatan manusia," kata Djarot.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Senegal Menang 2-1 Atas Polandia

Rabu , 20 June 2018, 00:22 WIB