Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Wednesday, 6 Syawwal 1439 / 20 June 2018

Seratus Anak di Sumbar Ikuti Kelas Sastra Gratis

Selasa 13 March 2018 22:25 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Seorang perempuan membaca salah satu buku sastra daerah dalam Kongres Internasional II Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Makassar (ilustrasi).

Seorang perempuan membaca salah satu buku sastra daerah dalam Kongres Internasional II Bahasa-bahasa Daerah Sulawesi Selatan di Makassar (ilustrasi).

Foto: Antara/Dewi Fajrian
Mendekatkan anak dengan buku karena kecenderungan sekarang akrab dengan gawai.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG PANJANG, SUMBAR -- Sekitar seratus anak di Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar) mengikuti kelas belajar sastra gratis yang diadakan oleh pemerintah daerah setempat setiap akhir pekan. Kelas ini dibuka sejak Mei 2017.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Padang Panjang, Alvi Sena di Padang Panjang, Selasa (13/3), mengatakan sejak kelas sastra gratis dibuka pada Mei 2017, pada empat kelas setiap akhir pekan rata-rata pesertanya berjumlah seratus anak.

"Ide kegiatan berawal dari keinginan mendekatkan anak dengan buku karena kecenderungan sekarang akrab dengan gawai. Berhubung Padang Panjang baru punya Forum Pegiat Literasi, kami kerja sama melaksanakan kegiatan yang sifatnya sosial ini," katanya.

Ia menyebutkan empat kelas yang dibuka pada 2017 yaitu menulis cerpen, teater, story telling, dan mendongeng. Kemudian mulai 2018 ditambah dua kelas yaitu menulis cerita anak dan adat dan budaya.

"Empat kelas awal masing-masing diikuti 20 anak. Dua kelas lain karena masih baru, jadi masih belasan anak. Karena sifatnya belajar dan gratis, anak-anak yang mau masuk kapan saja silakan karena selalu terbuka," katanya.

Sebagai tempat belajar, dimanfaatkan ruangan-ruangan yang tersedia di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.

Ketua Forum Pegiat Literasi Padang Panjang yang juga pengajar kelas menulis di kegiatan itu, Muhammad Subhan mengatakan peserta yang ikut belajar tidak dibatasi usianya. "Sekarang yang usia taman kanak-kanak (TK) sampai SMA ikut belajar. Tapi kami tidak ada batasan usia bagi yang ingin belajar," katanya.

Di kelas menulis, katanya, peserta diajarkan menulis karya nonilmiah seperti cerpen, puisi, resensi buku dan lainnya. "Seperti Januari 2018 kami fokus belajar menulis puisi, bulan selanjutnya cerpen dan sekarang esai. Anak-anak juga didorong mengirim karyanya ke media cetak di Sumbar" katanya.

Pengajar kelas mendongeng, Niki Martoyo menilai belajar sastra itu akan membantu melatih kepercayaan diri anak.

"Misalnya di kelas mendongeng belajar vokal dan mengatur mimik wajah ketika bercerita. Ini akan membantu mengasah kepercayaan diri ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bukan tidak mungkin nanti bisa pandai berorasi seperti Soekarno," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES