Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Banjir di Kabupaten Bandung Rendam Fasilitas Publik

Senin 26 Feb 2018 14:47 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Gita Amanda

SDN Dayeuhkolot 7 di Kampung Bolero, Desa Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung terendam banjir. Banjir di Kabupaten Bandung merendam tiga kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang.

SDN Dayeuhkolot 7 di Kampung Bolero, Desa Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung terendam banjir. Banjir di Kabupaten Bandung merendam tiga kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang.

Foto: Muhammad Fauzi Ridwan/REPUBLIKA
Terendamnya fasilitas publik menghambat pelayanan terhadap masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, DAYEUHKOLOT -- Banjir yang sudah terjadi selama empat hari di tiga Kecamatan, yaitu Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang, Kabupaten Bandung belum kunjung surut. Ketinggian air bervariasi dari mulai 30 sentimeter hingga dua meter lebih. Banjir mengakibatkan ratusan rumah warga terendam termasuk fasilitas publik semisal sekolah dan puskesmas serta kantor pos.

Akibatnya, aktivitas di puskesmas menjadi terhambat. Salah satunya di Puskesmas Dayeuhkolot. Kepala Puskesmas Dayeuhkolot, Dokter Yeni Widia Anita mengatakan, sudah empat hari pelayanan kesehatan di puskesmas terganggu akibat banjir. Katanya, air masuk ke dalam gedung puskesmas mencapai semata kaki.

"Akses jalan menuju puskesmas mati total nggak bisa dilalui. Pelayanan otomatis terganggu. Meski begitu, kita tetap buka dan membersihkan lumpur bekas banjir," ujarnya, Senin (26/2).

Menurutnya, dari enam poliklinik yang menerima pasien hanya beberapa seperti Poli umum, KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), Poli Gigi, KB, Lansia, dan MTBS. "Dalam sehari biasanya sampai 70-150 pasien. Kalau banjir rata-rata 10 pasien saja," katanya.

Ia menuturkan, pihaknya juga membuka posko pemeriksaan kesehatan di Koramil Dayeuhkolot selama musim banjir. Posko didirikan untuk masyarakat yang tidak bisa mengakses puskesmas. Sebanyak empat petugas diterjunkan selama dua shift kerja.

"Kami juga melakukan puskesmas keliling menggunakan ambulans ke posko banjir. Hari ini desa Citeureup, kemarin di desa Dayeuhkolot," ungkapnya.

Dirinya menambahkan, setiap hari korban banjir yang datang ke posko mencapai 30-50 orang yang memeriksakan kondisi kesehatannya. Rata-rata keluhan warga mengalami ISPA, diare dan penyakit kulit. Untuk stok obat-obatan menurutnya masih aman, kalaupun kurang akan segera diajukan ke Dinas Kesehatan.

Sementara itu, sejumlah sekolah yang terendam banjir diliburkan. Salah seorang siswa SD Negeri Leuwibandung, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rahmat Ramadan mengatakan, sekolahnya terendam banjir sehingga diliburkan.

"Udah empat hari libur. Banjirnya masuk ke dalam sekolah," katanya.

Salah seorang guru SDN Dayeuhkolot VII, Hastuti mengatakan, pihak sekolah terpaksa meliburkan para siswa lantaran sekolah terendah banjir hingga setinggi dua meter. Katanya, lima ruangan kelas, dan masing-masing satu ruangan guru dan kepala sekolah ikut terendam.

"Anak-anak enggak bisa datang ke sekolah karena kebanjiran. Apalagi, di sekolah banjirnya bisa nyampe dua meteran," ungkapnya.

Menurutnya, terdapat total 178 siswa SDN 7 yang diliburkan lantaran banjir. Para siswa kebanyakan berasal dari Kelurahan Anjir dan Dayeuhkolot. Rencana sekolah yang akan melaksanakan try out ujian nasional tingkat SD pada Senin ini, terpaksa dibatalkan hingga tenggat waktu yang belum dipastikan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA