Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Ribuan Santri Sambut Kehadiran TGB di Medan

Sabtu 24 Februari 2018 12:17 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Gita Amanda

Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) memberikan tausyiahnya pada Tabligh Akbar bertajuk

Gubernur NTB TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) memberikan tausyiahnya pada Tabligh Akbar bertajuk

Foto: Humas Pemprov NTB
TGB memotivasi dan mengobarkan semangat belajar ribuan santri pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Ribuan santri Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar-Raudlatul Hasanah, Medan, Sumatera Utara, menyambut antusias kehadiran Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainul Majdi. Para santri tersebut ingin mendengar langsung nasihat dan motivasi dari gubernur yang lebih dikenal Tuan Guru Bajang (TGB) tersebut.

Selama ini, mereka hanya dapat menyaksikan nasehat dan motivasi itu lewat media. Namun pada Jumat (23/2) lalu, Gubernur peraih leadership awards itu pun tak segan memberi motivasi dan mengobarkan semangat belajar ribuan santri.

"Jangan pernah berpikiran macam-macam saat belajar di pondok pesantren. Yang penting belajar mengaji kepada para kiai, sekaligus belajar beragam ilmu pengetahuan lainnya sebanyak-banyaknya. Insyaallah, akan dimudahkan segala jalan menuju keberhasilan di masa depan," pesan TGB saat Tabligh Akbar bertajuk"Urgensi Kepemimpinan dalam Islam".

TGB mengaku saat menempuh pendidikan di pesantren tidak pernah berpikir akan menjadi seorang kepala daerah. TGB mengatakan hanya belajar dengan sungguh-sungguh kala itu.

photo

Ribuan santri Tabligh Akbar bertajuk"Urgensi Kepemimpinan dalam Islam".

"Saat saya mondok di Ponpes Nahdlatul Wathan di Pancor, Lombok Timur dulu, tak pernah terpikir sama sekali bakal menjadi seorang gubernur. Nah adik-adik ini juga siapa tahu bakal menjadi seseorang yang lebih dari saya," ucap TGB.

Menurut doktor ilmu tafsir Alquran Universitas Al Azhar itu, ilmu pengetahuan dan teknologi atau sains modern tak pernah bertentangan dengan Alquran. Oleh karenanya para santri harus percaya diri untuk belajar ilmu dan aplikasi terapan modern, di samping ilmu-ilmu agama. Santri tak boleh minder dengan siswa-siswi dari sekolah umum.

TGB mencontohkan program di sejumlah ponpes di NTB sejak 2011. Melalui MoU dengan Universitas Mataram, saat itu dibuat program penerimaan jalur khusus kepada 10 santri terbaik di bidang akademik dan penghafal Alquran per tahunnya. Hasilnya, pada 2016 lalu, 10 dokter baru berlatar belakang santri tercetak dengan nilai kelulusan atau indeks prestasi termasuk terbaik, rata-rata di atas 3,7.

"Itu bukti konkret, santri lulusan pondok pesantren tak kalah kualitasnya dengan mereka yang lulus dari sekolah umum. Asal rajin, tekun dan selalu percaya diri, persaingan di ranah apapun pasti bisa dimenangkan," kata TGB menambahkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES