Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Pemkot Bogor Siapkan Sekolah Ibu di 68 Kelurahan

Senin 22 Jan 2018 09:44 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Hazliansyah

Wali Kota Bogor Bima Arya

Wali Kota Bogor Bima Arya

Foto: Republika/Edi Yusuf
Sekolah ibu bertujuan meningkatkan kapasitas ibu dalam mengurus rumah tangga.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menyiapkan anggaran sebesar Rp 60 juta per kelurahan untuk penyelenggaraan Sekolah Ibu angkatan pertama yang akan dilakukan di 68 Kelurahan se-Kota Bogor pada Maret. Anggaran ini diperuntukkan untuk akomodasi, konsumsi pengajar dan peserta selama empat bulan menjalani sekolah ibu.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Kota Bogor, Yane Ardian, mengatakan, saat ini,sebanyak 136 pengajar sedang memasuki tahap pelatihan. "Mereka akan menyebar ke 68 kelurahan dengan tiap kelurahan ada dua pengajar," ujarnya saat dikonfirmasi Republika.co.id, Senin (22/1).

Untuk menjadi pengajar, ada beberapa kriteria yang diperhitungkan. Di antaranya, berstatus menikah, memiliki anak, pendidikan terakhir sarjana tanpa memandang apapun profesi dan tempat tinggal. Mereka berasal dari Kota Bogor maupun di luar itu.

Sementara itu, untuk peserta sekolah ibu, tiap kelurahan bisa mengirimkan 30 orang per angkatannya. Mereka berusia di bawah 45 tahun atau memiliki anak dengan usia tingkat sekolah dasar (SD) yakni kisaran enam sampai 12 tahun.

Sebelumnya, sekolah ibu sudah pernah diselenggarakan melalui pilot project di Kelurahan Katulampa. Selama empat bulan, 26 ibu menjalani pendidikan yang pada akhirnya diwisuda pada Sabtu (20/1) di Balai Kota Bogor oleh Yane dan Wali Kota Bogor, Bima Arya.

Yane menjelaskan, pelaksanaan sekolah ibu bertujuan untuk menyelamatkan keluarga dari permasalahan keluarga sekaligus meningkatkan kapasitas ibu dalam mengurus rumah tangga, dan mendidik anaknya. Tujuan ini sudah bisa dilihat dan dirasakannya usai pilot project.

Dulu, Yane menceritakan, salah seorang peserta sekolah ibu pernah menyampaikan kepada dirinya terkait keinginan bercerai. "Kemudian saya menyarankan agar ibu tersebut tetap mengikuti sekolah ibu hingga selesai. Alhamdulillah setelah pembelajaran selesai ibu tersebut tidak jadi bercerai," katanya.

Pada tahun pertama penyelenggaraan ini, Yane menargetkan sekolah ibu bisa dilakukan dalam tiga angkatan. Tiap angkatan dilaksanakan selama tiga sampai empat bulan. Sehingga, pada 2018, sekolah ibu ditargetkan dapat menjangkau setidaknya 6.120 ibu.

Sementara itu, Bima mengatakan, sekolah ibu yang digagas Tim Penggerak PKK Kota Bogor memilki peran kuat dalam membangun ketahanan keluarga.

"Sebab, karakter seorang ibu berperan penting dalam ketahanan keluarga itu sendiri, termasuk membentuk karakter anaknya," ujarnya.

Hanya, berbeda masa maka berbeda pula karakter ibu dan pembelajarannya. Jika ibu-ibu zaman dahulu diwarisi kebijaksanaan dan ilmu secara turun temurun, Bima menambahkan, ibu-ibu zaman sekarang haruslah dibekali ilmu dari luar. Sebab, semakin banyaknya godaan eksternal, semisal dari gawai.

Bima melihat, sekolah ibu jadi awal yang baik. Termasuk dengan menambah lingkaran pertemanan dan persaudaraan yang saling mengingatkan serta menjaga konsistensi dari ilmu yang didapat.

"Seperti, bisa membaca karakter suami, karakter anak dan pengaruh lingkungan," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA