Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Sunday, 10 Syawwal 1439 / 24 June 2018

Uni Eropa akan Uji Penerbangan di Papua

Ahad 14 January 2018 18:40 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Pesawat Jenis Pilatus Porter milik MaLapangan Terbang Perintis Arwanop, Distrik Tembagapura, Timika, Papua.

Pesawat Jenis Pilatus Porter milik MaLapangan Terbang Perintis Arwanop, Distrik Tembagapura, Timika, Papua.

Foto: Antara/Spedy Paereng

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Uni Eropa akan menguji penerbangan di Papua dalam rangka upaya pencabutan larangan terbang (EU Ban) bagi maskapai-maskapai Indonesia ke Benua Eropa. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Agus Santoso.

Agus di Jakarta, Ahad (14/1), mengatakan Papua adalah daerah yang dipilih oleh tim audit keselamatan penerbangan Uni Eropa yang akan dilaksanakan pada Maret 2018. "Kita sudah meraih Kategori 1 Federal Aviation Administration, saatnya kita menagih pencabutan larangan EU Ban ke Eropa selama 10 tahun ini. EU memberikan syarat tambahan lagi, yaitu titik asesmen di Papua," katanya.

Untuk itu, Agus mengatakan pihaknya harus mempersiapkan dengan sebaik-baiknya mengingat kondisi geografis Papua yang dinilai cukup sulit untuk penerbangan karena area pegunungan.

Aspek-aspek yang akan dinilai, dia menyebutkan, di antaranya regulasi, bandara, maskapai, kelaikudaraan dan lainnya. "Kami sudah sampaikan kepada maskapai ada atau tidaknya tes ini, tetap dilakukan ramp check, dan operator harus paham bahwa kita bukan mencari-cari kesalahan, tapi operator dan regulator harus sinergi karena kami perlu timbal-balik tentang keselamatan penerbangan di Indonesia," katanya.

Agus menuturkan alasan Uni Eropa ingin melakukan audit di Papua, yaitu jumlah bandara di Papua adalah sepertiga dari jumlah bandara di Indonesia.

Selain itu, agar Papua dikembangkan seperti bandara-bandara di wilayah Indonesia bagian Barat lainnya. "Puluhan tahun lalu itu Papua dianggap remote area, jauh dari Jakarta dan tidak tersentuh inspektur, kami harus terbang minimal lima jam dulu jadi dianggap kurang diperhatikan oleh regulator," katanya.

Maskapai-maskapai yang akan diperiksa, yaitu maskapai tanah air. Untuk bandara atau air strip sendiri, dia menambahkan akan dibenahi karena ketika dahulu dibangun belum memenuhi standar. "Air strip seadanya, arah landasan pacunya salah, tapi kami sudah mempelajari akan membuat komparasi seperti kondisi di Alaska," katanya.

Agus mengatakan apabila lolos audit EU Ban, maka seluruh maskapai bisa terbang ke Benua Biru itu. "Namun, meskipun belum tentu semua maskapai akan membuka rute ke Eropa, tujuannya adalah nama baik Indonesia," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES