Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Petani: Mohon Jangan Impor Dulu, Sebentar Lagi Kami Panen

Ahad 14 Januari 2018 15:16 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Hazliansyah

Petani membawa padi mereka yang terendam banjir di area persawahan Desa Nga, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Ahad (3/11).

Petani membawa padi mereka yang terendam banjir di area persawahan Desa Nga, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Ahad (3/11).

Foto: ANTARA FOTO/Rahmad

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Rencana pemerintah mengimpor beras dari luar negeri mendapat penolakan dari kalangan petani. Ketua Gabungan Kelompok Tani Sri Jaya, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Sartam, meminta pemerintah untuk menunda impor beras.

"Mohon pemerintah jangan memasukkan beras impor dulu. Ini sebentar lagi kami akan panen," jelasnya, Ahad (14/1).

Dia menyebutkan, di wilayah Banyumas akan cukup banyak areal sawah yang mulai memasuki panen pada Januari 2018 ini. Bahkan musim panen panen ini akan terus berlangsung hingga akhir Maret 2018.

"Tolong beri kesempatan pada petani untuk menikmati harga yang cukup baik. Kami yakin, kalau pemerintah memasukkan beras impor dalam waktu dekat, maka harga beras akan langsung anjlok," katanya.

Dia menyebutkan, petani padi selama ini tidak pernah menikmati harga jual yang cukup baik. Bila sedang musim panen, harga gabah kering giling (GKG) seringkali anjlok hingga di bawah Rp 4.000 per kg. Sementara kalau sedang tidak panen dan petani sudah tidak menyimpan gabah, harga gabah melonjak.

"Saat ini, harga gabah sedang baik. Mohon pemerintah bisa memberi kesempatan pada kami para petani, agar bisa menikmati jerih payah kami dari menanam padi dengan harga jual yang lebih baik," katanya.

Harapan serupa juga disampaikan Ketua Kelompok Tani Margajaya Desa Pegalongan Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Tamba. Dia menyebutkan, di wilayahnya ada sekitar 200 hektar lahan sawah yang akan memasuki masa panen awal Februari 2018. Dia memastikan, kalau beras impor masuk akhir Januari 2018, maka harga gabah akan langsung anjlok.

"Tolong pemerintah jangan impor dulu," katanya.

Dia menyebutkan, dari hasil panen padi selama ini, petani tidak pernah menikmati harga yang cukup baik. Pada saat setiap musim panen, harga gabah kering panen (GKP) atau (GKG), selalu anjlok di bawah HPP. Sekali pun pada tahun tersebut pemerintah tidak melakukan impor beras.

Tanpa pemerintah harus impor beras sekali pun, dia yakin, harga beras dan gabah pada musim panen Februari-Maret 2018, akan mengalami penurunan.

"Kami hanya berharap, tanpa adanya impor beras, maka harga gabah kering giling pada saat panen bisa tetap bertahan di atas Rp 4.500 per kg. Tidak anjlok sampai di bawah harga itu," katanya.

Dia menyebutkan, harga gabah saat ini memang masih cukup baik. Petani yang masih menyimpan gabah kering giling (GKG) dari hasil panen tahun lalu, dihargai pedagang dengan harga Rp 6.500 per kg. Sedangkan GKP (Gabah Kering Panen) dihargai Rp 5.200 per kg.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES