Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Tiga Kelurahan Sukabumi Tertinggi Kasus Bencana di 2017

Ahad 07 Jan 2018 09:26 WIB

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Nur Aini

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi meninjau jembatan yang ambruk di perbatasan antara Kecamatan Parungkuda dan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Selasa (24/1).

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi meninjau jembatan yang ambruk di perbatasan antara Kecamatan Parungkuda dan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Selasa (24/1).

Foto: Republika/Riga Nurul Iman

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Sebanyak tiga kelurahan di Kota Sukabumi tercatat paling tinggi kasus kebencanannya dibandingkan dengan yang lain. Kawasan tersebut sebelumnya memang dipetakan sebagai daerah rawan bencana terutama pergerakan tanah atau longsor.

"Dari 33 kelurahan yang ada di Kota Sukabumi, ada tiga kelurahan yang tinggi kasus bencananya pada 2017," ujar Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi Zulkarnain Barhami kepada wartawan Ahad (7/1). Ketiga kelurahan itu yakni Subangjaya dan Cisarua di Kecamatan Cikole serta Kelurahan Karangtengah Kecamatan Gunungpuyuh.

Menurut Zulkarnain, di sepanjang 2017 lalu tercatat ada sebanyak 159 kejadian bencana yang tersebar di 33 kelurahan. Kasus bencana tertinggi tercatat di Kelurahan Subangjaya sebanyak 21 kejadian. Padahal pada 2016 kasus bencana hanya sebanyak 7 kejadian.

Selanjutnya di Kelurahan Cisarua sebanyak 9 kejadian. Kasus bencana di daerah tersebut turun karena tahun sebelumnya sebanyak 14 kejadian. Daerah tertinggi bencana lainnya yakni Karangtengah sebanyak 10 kejadian . Sebelumnya kasus bencana di 2016 mencapai 19 kejadian.

Tingginya kasus bencana ini, ujar Zulkarnain, berdampak pada besarnya kerugian. Contohnya kerugian akibat bencana di Kelurahan Subangjaya menyebabkan kerugian sebesar Rp 278.650.000 dan Kelurahan Cisarua sebesar Rp 272 juta. Hal ini mengakibat Kecamatan Cikole menjadi daerah tertinggi yang mengalami kerugian akibat bencana yakni Rp 990.850.000.

Zulkarnain menerangkan, ke depan pemkot seharusnya fokus untuk menegakkan peraturan daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan perda RTRW. Hal itu khususnya ketentuan dalam pembangunan infrastruktur berbasis pengurangan bencana.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA