Senin, 3 Zulqaidah 1439 / 16 Juli 2018

Senin, 3 Zulqaidah 1439 / 16 Juli 2018

Tujuh Kampung Damai Terbentuk di Malang Raya

Senin 18 Desember 2017 01:54 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Hazliansyah

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid Menjadi Pembicara dalam FGD Pra Munas Alim Ulama NU

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid Menjadi Pembicara dalam FGD Pra Munas Alim Ulama NU "Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia, di Hotel Harris Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (16/11).

Foto: Republika/Rahmat Fajar

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Wahid Foundation (WF) membentuk tujuh kampung damai di Malang Raya. Kampung yang tersebar di Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu ini sudah didirikan sejak awal Desember.

"Jadi kampung itu ada di Desa Candirenggo, Desa Lawang, Desa Gunungrejo (Kabupaten Malang), Desa Sidomulyo, Desa Gunungsari, Desa Tlekung (Kota Batu), dan Kelurahan Polehan (Kota Malang)," ujar Project Officer Riset Kebijakan dan Advokasi WF, Siti Kholisoh saat ditemui wartawan di Hotel Savana Malang.

Selain di Malang Raya, kampung damai ini juga sudah terbentuk di Sumenep, Klaten, Solo, Depok dan Bogor. Dengan kata lain, baru tiga provinsi yang sudah memiliki kampung damai, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Secara keseluruhan terdapat 33 kelurahan atau desa di tiga provinsi yang sudah memiliki sistem kampung tersebut.

Kholishoh menerangkan, pembentukan kampung damai ini muncul karena berkaitan dengan program yang telah dijalankan WF sejak 2013. Program yang dimaksud, yakni penguatan inklusi sosial di kalangan perempuan. Dari situ, pihaknya menginginkan pembentukan penguatan inklusi sosial dari level bawah seperti desa.

Di sisi lain, pentingnya pembentukan kampung damai ini tak terlepas dari survei yang dilakukan WF pada 2016. WF menemukan potensi intoleransi dan radikalisme di masyarakat Indonesia. Sebanyak 49 persen masyarakat Indonesia netral cenderung intoleransi sedangkan lainnya lebih pada rentan ke arah toleransinya.

Adapun mengenai indikator kampung damai, Kholishoh mengungkap ada sembilan aspek. Beberapa di antaranya seperti terciptanya toleransi di masyarakat dan adanya partisipasi perempuan pada pembangunan desa. Selanjutnya, terdapat penguatan ekonomi dan sistem peringatan dini di masyarakatnya serta kuatnya kerukunan agama yang lebih beragam di kampung tersebut.

"Jadi sebelumnya kita sudah assessment dan kita melihat desa itu memang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kampung damai. Dan minimal di kampung tersebut ada dua sampai tiga agama yang dianut warganya," tambah dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES