Sabtu, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Sabtu, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

BPBD Minta Pembersihan Talud STT Ditunda karena Hujan

Selasa 14 Nov 2017 15:56 WIB

Rep: bowo pribadi/ Red: Karta Raharja Ucu

Ilustrasi Hujan Es

Ilustrasi Hujan Es

Foto: Foto : MgRol_94

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Heru Subroto meminta kepada pengelola Sekolah Tinggi Teologia (STT) Sangkakala untuk tidak melakukan aktivitas pembersihan di sekitar lokasi talud yang longsor. Sebab kondisi di lokasi talud ambrol yang menewaskan seorang mahasiswi STT Sangkakala ini dinyatakan masih belum aman.

Selain intensitas hujan yang cenderung tinggi, kondisi tanah yang ikut longsor masih gembur. Beberapa bagian talud yang ikut ambrol bahkan masih ada yang 'menggantung' dan berandar di bangunan asrama STT ini.

Larangan yang sama juga berlaku bagi petugas maupun relawan BPBD Kabupaten Semarang. “Jika ada aktivitas dikhawatirkan bisa terjadi longsor susulan. Sehingga sangat membahayakan,” kata di Ungaran, Selasa (14/11).

Heru berkata untuk upaya pembersihan reruntuhan talud dan tanah yang menimbun bangunan asrama akan diupayaan alat berat. Namun pekerjaan pembersihan ini akan dilaksanakan sambil menunggu kondisi cuaca yang lebih baik.

“Masih bahaya jika dilakukan aktivitas di sana. Untuk sementara melihat perkembangan cuaca terlebih dahulu. Terlebih jika kondisi curah hujan masih sangat tinggi, sangat beresiko untuk petugas kami maupun para relawan,” jelasnya.

Selain itu, perlu dibuatkan jalur darurat untuk alat berat. Karena tidak ada akses untuk alat berat menuju ke titik talut yang ambrol. Setelah alat berat bisa masuk, langkah yang perlu diupayakan adalah membersihkan sisa- sisa material yang mayoritas berupa bebatuan dan beton.

Seperti diinformasikan sebelumnya, talud setinggi hampir delapan meter dengan panjang 30 meter di lingkungan kampus STT Sangkakala ambrol setelah hujan dengan intensitas yang cukup tinggi turun di wilayah Kecamatan Getasan dan sekitarnya. Akibatnya reruntuhan material talut yang bercampur tanah menghantam bangunan asrama mahasiswa. Seorang mahasiswi ditemukan tewas dan musibah ini juga mengakibatkan dua orang mahasiswa lainnya mengalami luka- luka serius dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Korban meninggal dunia diketahui sebagai mahasiswi Tingkat II Semester III asal Kalimantan Tengah bernama Ressy (22). Sedangkan korban luka- luka masing- masing Marcelina (19) mahasiswi Tingkat I Semester I asal Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) serta Imanuel Nuban (21) mahasiswa Tingkat II Semester III asal Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA