Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

BMKG: Kemarau di DIY Bersifat Basah

Selasa 25 Jul 2017 14:59 WIB

Red: Fernan Rahadi

Ilustrasi Kemarau

Ilustrasi Kemarau

Foto: Foto : MgRol_94

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta Agus Sudaryatno menyatakan kemarau di DIY masih bersifat basah atau tidak sekering tahun-tahun sebelumnya. "Tidak sekering tahun-tahun sebelumnya karena masih ada hujan di sana-sini," kata Agus di Yogyakarta, Senin (24/7).

Karena bersifat basah, Agus mengatakan meski Juli hingga Agustus 2017 sudah memasuki puncak musim kemarau, rata-rata curah hujan di DIY saat ini masih mencapai 10-22 milimeter per dasarian (10 hari). Ini terjadi karena adanya gangguan cuaca akibat belokan-belokan angin di sekitar Pulau Sumatera. "Sehingga meskipun memasuki puncaknya hujan masih ada dengan curah hujan rata-rata di bawah 50 milimter per dasarian," kata dia.

Kendati demikian, kata Agus, sifat basah kemarau itu tidak berdampak di Kabupaten Gunung Kidul dan sebagian kecil Kabupaten Kulon Progo. Sehingga tingkat kekeringan di dua kabupaten itu tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya."Untuk Gunungkidul memang kami imbau masyarakatnya tetap berhemat air," kata dia.

Agus mengatakan musim kemarau di DIY yang sudah dimulai sejak Mei 2017 diperkirakan akan segera berakhir pada akhir September. "Kami perkirakan akhir September sudah mulai masui musim hujan," kata dia.

Terkait hal itu, ia menilai upaya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY tetap membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kekeringan lebih bersifat antisipatif terhadap bencana kekeringan, khususnya yang setiap tahun terjadi di Gunungkidul. "Saya kira itu antisipatif saja," kata dia sembari mengaku BMKG tidak tergabung dalam Satgas yang dibentuk BPBD DIY itu.

Sebelumnya, BPBD DIY telah membentuk Satgas Penanggulangan Kekeringan yang bertugas melakukan respon cepat serta mengidentifikasi potensi bencana kekeringan selama musim kemarau 2017. Satgas ini efektif bekerja sejak 20 Juli hingga September 2017.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) DIY Krido Suprayitno mengatakan pembentukan satgas itu bersifat mendesak karena tren persebaran titik kekeringan pada musim kemarau di wilayah ini diperkirakan meningkat pada tahun ini.

Menurut Krido, BPBD DIY telah memetakan delapan kecamatan yang telah mengalami kekeringan di Gunung Kidul, yakni Kecamatan Rongkop, Girisubo, Semin, Nglipar, Panggang, serta Palian. Untuk wilayah itu BPBD DIY telah menyalurkan 210 tangki air bersih.

Sedangkan di Kabupaten Kulon Progo, BPBD DIY telah mendeteksi 183 titik kekeringan yang menyebar, meski pusat kekeringan ada di Kecamatan Temon dan Kokap. Sedangkan Bantul ada di Kecamatan Dlingo, Peleret, Imogiri, dan Sleman ada di Kecamatan Prambanan.

 

 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA