Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Bupati: Modalitas Transportasi ke NYIA tak Perlu Jalan Tol

Selasa 18 Juli 2017 17:00 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Fernan Rahadi

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo

Foto: Republika/Neni Ridarineni

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo mengatakan jalan menuju bandara baru di Kulon Progo atau NYIA (New Yogyakarta Internationa lAirport) tidak perlu jalan tol. Karena modalitas transportasi untuk ke bandara sudah cukup banyak yakni ada JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan) empat jalur, Jalan hasional enam jalur, Kereta Api Double Track dan jalan koneksitas ke Borobudur empat jalur.

"Jadi jalan tol bukan urgent . Untuk jalan nasional yang enam jalur yang tidak perlu membebaskan tanah sekarang sudah mulai dibangun,''kata Hasto pada wartawan di sela-sela acara Pembangunan Integritas Kepala Daerah, di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Selasa (18/7). Selain itu, kata Hasto menambahkan, sekarang juga sedang dibuat jembatan Sunga Progo dengan muara sungai di laut sepanjang empat kilometer.

Untuk jalan koneksitas ke Borobudur ada dua alternative yakni lewat Sentolo dan lewat bedah Menoreh.''Sekarang sedang diajukan ke Menteri Pekerjaan Umum (PU) nanti tinggal melihat hasil kajian dari Menteri.

Kalau harapan Pak Gubernur dan harapan saya juga jalan koneksitas ke Borobudur lewat bedah Menoreh. Karena keuntungannya banyak . Sekarang saya sudah membuat jalan tembus ke Purworejo lewat Jatimulyo dengan lebar 12 meter. Hal ini keuntungannya banyak bagi masyarakat Purworejo maupun Kulon Progo,''kata Hasto.

Menurutnya, kalau ada jalan tol terutama di Kulon Progo risikonya membelah dan mengisolir masyarakat. ''Hal ini sangat repot bagi Wates karena menjadi terbelah. Sudah daerahnya kecil, terbelah lagi. Hal ini akan merepotkan dari segi komunikasi dan lain-lain.

Jalannya juga harus mutar jauh. Kalau diputus oleh jalan tol, dari Wates mau ke Kalibiru mutarnya jauh sekali,''katanya.

Sementara itu secara terpisah Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan ketidaksetujuannya terhadap tol di DIY karena tol itu ditutup jalannya, serta orang harus membayar. Kalau ada jalan tol, orang tidak bisa bebas berjualan, kecuali ada tempat yang sudah ditentukan.''Asal jalan tidak ditutup seperti JJLS ada empat jalur dan itu bukan tol saya setuju saja,''ujarnya pada wartawan. 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES