Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Hotel dan Restoran Dominasi Penggunaan Elpiji 3 Kg

Selasa 23 May 2017 19:19 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Andi Nur Aminah

Pekerja membawa tabung gas elpiji tiga kilogram (gas melon) untuk dipindahkan ke truk pengangkut gas di agen penjualan gas, Mampang, Jakarta, Senin (31/10).

Pekerja membawa tabung gas elpiji tiga kilogram (gas melon) untuk dipindahkan ke truk pengangkut gas di agen penjualan gas, Mampang, Jakarta, Senin (31/10).

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Sering hilangnya elpiji tabung 3 kg untuk rakyat miskin, ternyata disalahgunakan oleh usaha menengah ke atas. Sejumlah hotel, restoran (rumah makan), dan kafe masih menggunakan elpiji 3 kg. Padahal seharusnya mereka menggunakan elpiji nonsubsidi.

Pemantauan Republika.co.id di sejumlah pangkalan elpiji 3 kg atau tabung melon di beberapa tempat Kota Bandar Lampung, Selasa (23/5), pembeli gas tabung 3 kg dengan jumlah banyak didominasi pengelola usaha rumah makan, hotel, dan kafe. Mereka membeli menggunakan mobil dan motor dengan jumlah lebih dari 10 tabung.

Pihak pangkalan tak bisa berbuat banyak untuk melarang pembeli dengan jumlah besar. Pasalnya, ada pembeli untuk dipasarkan lagi atau di jual lagi di warung-warung yang jauh dari pangkalan. “Kami tidak bisa melarang mereka mau beli gas. Soalnya, mereka mau jual lagi ke pengecer,” ujar Yanto, petugas pangkalan gas elpiji 3 kg di Kemiling.

Pangkalannya menerima pasokan gas dengan jumlah ribuan tabung. Setiap pekan, pangkalannya menerima kiriman empat kali. Ironisnya, tabung yang jumlah ribuan tersebut, ludes terjual hanya beberapa menit saja. “Tidak sampai satu jam sudah habis terjual tabung ribuan tersebut. Mereka sudah nunggu,” katanya.

Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas) Lampung melakukan sidak di sejumlah hotel dan restoran. Mereka menemukan beberapa rumah makan besar menggunakan tabung gas subsidi 3 kg dalam jumlah besar. Alasan pengusaha restoran tersebut, pihaknya kesulitan mencari tabung gas nonsubsidi 5 kg dan 12 kg. “Sebenarnya tidak ada kelangkaan elpiji 3 kg, tapi peruntukkan tidak sesuai,” kata Kabid Humas Hiswanamigas Lampung Tri Purnomo.

Selisih harga antara tabung gas 3 kg dengan 5 kg dan 12 kg sangat jauh. Para pengusaha restoran dan hotel banyak beralih ke tabung 3 kg subsidi. Harga gas elpiji 3 kg Rp 17 ribu sedangan elpiji 5 kg Rp 70 ribu, dan tabung 12 kg Rp 130 ribu.

Menurut Tri, tujuan sidak untuk mengetahui siapa saja pengguna tabung gas subsidi untuk rakyat miskin. Penyelewengan penggunaan tabung bersubsidi tersebut merugikan rakyat kecil karena selalu terjadi kekosongan tabung melon tersebut di pangkalan.

Hiswanamigas melakukan tindakan peringatan kepada pihak yang melanggar dan mengancam akan merekomendasikan mencabut izin usaha, bila peringatan sebelumnya tidak diindahkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA