Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Water Project Bantu Entaskan Kesulitan Air di Gunungkidul

Rabu 31 Aug 2016 14:28 WIB

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Winda Destiana Putri

Kekeringan

Kekeringan

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) berupaya mengatasi kekeringan di Desa Giripurwo, Purwosari, Gunungkidul. Melalui kegiatan Water Project mereka membantu masyarakat setempat membuat sumur bor, penampungan air, Panisasi, pengadaan MCK dan sanitasi umum.

Koordinator Water Project, Wildan Salsabila menuturkan, warga Giripurwo selalu mengalami kesulitan air sepanjang tahun. Bahkan wilayah tersebut menjadi salah satu daerah yang mengalami kekeringan terparah di Kabupaten Gunungkidul.

"Hal ini terjadi karena sumber air di desa tersebut sangat terbatas. Sementara struktur tanah karst atau kapur tidak bisa menahan air dengan baik," katanya, Rabu (31/8). Kondisi ini mengakibatkan air hujan langsung mengalir menuju sungai bawah tanah dengan kedalaman mencapai 100 meter.

Adapun sumur dangkal yang dibuat warga sangat terbatas. Wildan menyampaikan, setiap dusun hanya ada sedikit sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sumur ini pun hanya dapat bertahan selama musim hujan.

Sementara saat musim kemarau datang sumur-sumur menjadi kering. Sehingga warga kehilangan satu-satunya sumber air. Guna memenuhi kebutuhannya, masyarakat biasa membeli atau menunggu bantuan air dari pemerintah.

"Warga yang mampu, ya beli air mulai dari Rp 120 sampai Rp 200 ribu per 5.000 liter. Sedangkan yang kurang mampu hanya bisa menunggu bantuan pemerintah," kata Wildan.

Menurutnya, kondisi kekeringan dan kesulitan air tersebut sudah berlangsung selama puluhan tahun. Umumnya warga sudah pasrah dengan keadaan tersebut. Sebab selama ini warga sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kelangkaan air dengan menampung air hujan dan membuat sumur dalam hingga kedalaman 30 meter, tetapi tidak membuahkan hasil.

Berawal dari keprihatian tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM pun berusaha memberikan solusi dengan mengagas program Water Project. Program pengabdian ini diharapkan dapat mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Dari hasil eksplorasi di lapangan, para mahasiswa menemukan fakta bahwa pembuatan sumur bor baru relatif kurang efisien dan kurang luas kemanfaatanya. Untuk itu tim KKN UGM berusaha mencari solusi jangka panjang dalam mengatasi kekeringan.

Mereka menemukan potensi sumber air bawah tanah di Desa Giripurwo salah satunya dari Laut Bekah. Di sumber air tersebut terdapat sungai bawah tanah di bawah tebing dengan ketinggian 80 sampai 100 mdpl.

“UGM bersama warga desa Giripurwo menginisiasi pengangkatan sumber air bekah tersebut,” ujar Wildan.

Sumber air Bekah tersebut diketahui memiliki debit minimal 30 liter per detik sepanjang tahun. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan 3.000 keluarga dan kebutuhan air di Kecamatan Purwosari.

Proyek pengangkatan air ini dibuat untuk mencukupi kebutuhan tiga desa di kecamatan Purwosari dan Panggang yang benar-benar mengalami kesulitan sumber air. Adapun jaringan pipa distribusi yang dibuat adalah sepanjang 14 Km.

Selain itu, melalui Water Project masyarakat dan mahasiswa membuat penampungan air berkapasitas 5.000 liter yang ditempatkan di beberapa dusun. Penampungan ini digunakan sebagai sumur di musim penghujan dan tampungan air bantuan di musim kemarau.

"Kami berharap melalui proyek ini warga Giripurwo tidak lagi mengalami kesulitan air terutama saat musim kemarau tiba,” kata Wildan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Festival Panen Kopi Gayo

Rabu , 21 Nov 2018, 20:55 WIB