Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Hotspot di Sumatera dan Kalimantan tak Padam

Selasa 01 Sep 2015 22:39 WIB

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Hazliansyah

Petugas mencoba memadamkan api ketika terjadi kebakaran hutan jati di Desa Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Rabu (29/7).

Petugas mencoba memadamkan api ketika terjadi kebakaran hutan jati di Desa Balapulang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Rabu (29/7).

Foto: Antara/Oky Lukmanyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, titik api atau hotspot di Sumatera dan Kalimantan tidak mati.

Menurut pantauan Satelit Modis dari NASA pada Selasa (1/9) pagi, di Sumatera ada 198 hotspot yaitu di Jambi 59, Lampung 3, Sumbar 7, Sumsel 46, Riau 82, dan Sumut 1. Sedangkan di Kalimantan ada 591 hotspot yaitu Kalbar 74, Kalsel 30, Kalteng 313, Kaltim 138, dan Kaltara 36.

"Asap masih mengepung banyak daerah," katanya, Selasa, (1/9).

Jarak pandang di Pekanbaru pada pagi hari ini hanya 1 km, Rengat 1 km, Pelalawan 2 km, Jambi 400 meter, dan Pontianak 200 meter. Di Jambi, pesawat terbang Garuda Indonesia pukul 05.45 delay sampai jam 10.00 WIB.  Kemudian terbang di atas Jambi tetapi tidak dapat mendarat, dan akhirnya balik ke Jakarta.

Kualitas udara  ketegorinya  tidak sehat. ISPU di Palangkaraya sejak pagi mencapai 628 yang artinya sangat berbahaya, sangat jauh di atas ambang berbahaya 350.

 

"Kebakaran hutan dan lahan selalu berulang setiap tahun. Sudah menjadi tradisi tahunan saat musim kemarau," kata Sutopo.

Jutaan jiwa masyarakat terkena dampak dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai triliunan rupiah. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memadamkan api baik di darat maupun di udara.

Saat ini, terang dia, tindakan hanya berfokus pada memadamkan kebakaran. Pemerintah dan daerah perlu mengadopsi lebih banyak strategi preventif yang mengatasi akar masalah kebakaran hutan dan lahan.

Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kebakaran selalu berulang. Berdasarkan penelitian CIFOR, pembukaan lahan dengan membakar telah lama digunakan oleh pemilik ladang dalam rangka penyiapan lahan. Ini sering menimnulkan kebakaran lahan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA