Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

DPPK Sleman: Petani Ikan Sebaiknya Ganti Komoditas

Ahad 26 Jul 2015 21:25 WIB

Rep: C97/ Red: Djibril Muhammad

Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan (ilustrasi).

Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan (ilustrasi).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang/ca

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN – Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kelautan (DPPK) Sleman, Widi Sutikno mengimbau para petani ikan mengganti komoditasnya pada saat musim kemarau ini. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan keberlangsungan aktivitas tani dengan kondisi debit air yang terus berkurang hingga September nanti.

"Sebaikknya mengganti jenis ikan. Terutama  untuk nila dan emas diganti dengan ikan yang tidak membutuhkan banyak air. Misalkan lele," kata pria yang akrab disapa Widi itu kepada Republika, Ahad (26/7).

Ia mengakui musim kemarau sekarang menyebabkan sejumlah kolam ikan mengering. Terutama untuk wilayah timur, Maguwoharjo, Depok. Khususnya di Dusun Nayan.

Sedangkan di daerah Ngemplak dan cangkringan, para petani masih bisa mengairi kolam ikannya. Menurut Widi penggunaan air grafitasi oleh para petani ikan mengakibatkan mereka kesulitan untuk mengaliri kolamnya.

Ia mengemukakan, para petani bisa mengairi kolamnya dengan sumur pompa. Bahkan DPPK Sleman pun bisa membantu. Namun biayanya cukup mahal. Sehingga banyak petani yang memilih berhenti beternak ikan untuk sementara.

"Padi kan masih bisa disiasati dengan palawija. Kalau beternak ikan ya cara menyiasatinya juga dengan mengganti komoditas ikan," tutur Widi.

Tapi ia mengakui tidak mudah mengganti komoditas ikan. Sebab merubah sarana pembiakan membutuhkan biayanya yang tidak sedikit.

Widi mengemukakan, hanya ada dua pilihan bagi para petani ikan untuk terus beraktivitas. Pertama terus membudidayakan jenis ikannya menggunakan simtem pengairan pompa air bawah tanah. Hal ini tentunya menimbulkan konsekuensi investasi yang cukup tinggi.

Kedua, mengganti komoditi dengan jenis ikan yang tidak memerlukan banyak air. JIka tidak petani harus berpuasa sampai kemarau berakhir.

Ia menyampaikan bahwa kondisi kekeringan selalu terjadi setiap tahunnya. "Ini kan hukum alam," ujar Widi.

Meski begitu DPPK pun sedang melakukan evaluasi untuk menghadapi kemarau panjang hingga September nanti. Sejauh ini DPPK sudah melakukan penambahan alat pompa air di beberapa titik rawan kekeringan. Seperti Prambanan.

Sebelumnya Ketua Unit Pengelolaan Ikan Mino Ngudi Lestari di dusun Nayan, Maguwoharjo, Depok, Heri Santoso menyampaikan, sejumlah petani ikan nila di wilayahnya berhenti beraktivitas. Hal tersebut disebabkan oleh kolam yang mengering pada musim kemarau sekarang.

"Ada sekitar 20 orang petani ikan nila di sini. Sekarang semuanya berhenti," kata Heri. Maka itu, akhirnya unit pengelola ikan yang dipimpinnya mengambil bahan baku ikan nila dari luar daerah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA