Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Sultan Minta Operasi Pasar di Pemukiman Masyarakat

Senin 23 Feb 2015 19:20 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Djibril Muhammad

Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Mulai Senin (23/1) Bulog DIY bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) DIY mulai melakukan operasi pasar murni kemasan lima kilogram.

Hal itu dikemukakan Kepala Divisi Regional Bulog DIY Langgeng Wisnu Adinugroho kepada Republika, di ruang kerjanya, Senin (23/2).

Rencananya operasi pasar akan dilakukan selama seminggu ke depan. Operasi pasar dilakukan di kantor kecamatan dan pasar tetapi yang menentukan lokasi Disperindagkop DIY, sedangkan petugas dari Bulog.

"Hari ini OPM dilakukan di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta," ujarnya.

Agar tidak ditimbun sebagaimana yang dikhawatirkan Menteri Perdagangan, beras setiap pembeli dibatasi satu kantong plastik yang isinya lima kilogram dengan harga per kilogram Rp 7.400.

Operasi pasar ini menggunakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang adanya di Pusat. Dia mengakui CBP secara nasional mulai menipis dan setiap tahun selalu dicadangkan pemerintah. "Anggaran CBP sekarang dalam proses ketok pali Kementerian keuangan," kata Langgeng.

CBP ini biasanya untuk stabilitas harga dan kejadian bencana alam. CBP sistemnya stok ada di Pusat, tetapi swaktu-waktu bila ada permintaan daerah bisa dikeluarkan, jelasnya.

Dia mengakui akhir November sampai Februari biasanya memang terjadi paceklik sehingga harga beras tinggi karena siklus musim tanam dan diperparah dengan siklus hujan mundur dan hujan terjadi di mana-mana, petani tidak bisa menjemur gabar.

Di samping itu, Langgeng menambahkan, Bojonegoro yang merupakan daerah sentra nomor satu beras mengalami kebanjiran. "Karena pemicu kenaikan beras kumpul menjadi satu, sehingga lebih terasa," tuturnya.

Berkaitan dengan tingginya harga beras dan di Jakarta disinyalir terjadi beras oplosan, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X mengharapkan di Yogyakarta dilakukan identifikasi, Dia meminta agar operasi pasar beras itu tidak dilakukan di pasar. Kalau di pasar bisa dioplos oleh pedagang,

"Saya sejak dulu dulu selalu mengatakan apa benar operasi pasar harus di pasar? Dan bukan di pemukiman masyarakat yang memerlukan harga murah, Kalau operasi beras di pasar bisa dioplos dan di jual lagi, Seharusnya operasi beras itu dilakukan di pemukiman penduduk yang memerlukan harga murah," kata Sultan pada wartawan di Kepatihan Yogyakarta, Senin (23/2).

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA