Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Thursday, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Udara di Pekanbaru Kembali Memburuk

Kamis 13 Mar 2014 13:29 WIB

Red: Nidia Zuraya

Kabut asap menyelimuti Pekanbaru.

Kabut asap menyelimuti Pekanbaru.

Foto: Rony Muharman/Antara

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Udara di Kota Pekanbaru kembali memburuk dengan jarak pandang ketika berada di pusat kota paling jauh hanya sekitar 50 meter dengan sayup-sayup terlihat kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat menyalakan lampu kendaraan.

Pantauan Antara, Kamis (13/3), pada sejumlah ruas jalan utama maupun jalan alternatif di seperti Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Soekarno Hatta, Jalan Soebrantas, Jalan Patimura, Jalan Sumatera dan Jalan Gajah Mada di Pekanbaru, telihat ramai dan lancar. Namun, umumnya kendaraan bermotor telihat lebih berhati-hati untuk menghindari terjadinya kecelakan lalu lintas di jalan raya sembari memperhatikan rambu-rambu lalu lintas di setiap pesimpangan jalan.

Kondisi tersebut mulai terjadi pada pagi hari yang berlansung hingga tengah hari dan membuktikan pemerintah setempat baik kota maupun provinsi serta pemerintah pusat belum mampu berbuat dalam mengatasi kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan.

"Ya, sudah ngak bisa lagi. Asapun sudah terasa pahit dan pedih di mata. Bila saya berpergian selalu mengenakan masker penutup hidung dan mulut, walau belum sesuai dengan standar kesehatan masker yang saya kenakan," kata salah seorang warga, Topan.

Berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang terpampang di Jalan Sudirman maupun di persimpangan Jalan Tuanku Tambusai menunjukan catatan berwarna merah dengan tulisan "Berbahaya!" Di mana pada papan itu particulate matter (PM) menunjukan berbahaya dengan angka mecapai 500, kemudian sulfur dioksida (SO2) sekitar 85, lalu carbon monoksida (CO) sekitar 60, Ozon (O3) sekitar 120 dan nitrogen dioksida (NO2) sekitar 80.

Sepuluh mesin ISPU yang ditempatkan di berbagai lokasi di Riau mulai Ahad (9/3), merekam kualitas udara tunurun drastis hingga berstatus berbahaya atau "hazardous" bagi kesehatan manusia. "Data status kualitas udara berbahaya ini sudah kami terima sejak Ahad," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zainal Arifin.

Tim Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Asap Riau dalam rilisnya menyebutkan, alat ISPU milik PT Chevron Pasific di Rumbai, Pekanbaru, merekam Polutan Standar Indeks (PSI) mencapai angka 359,3 yang berarti berbahaya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES