Selasa 04 Dec 2012 18:35 WIB

Madrasah Masih 'Anak Tiri' Dunia Pendidikan?

Rep: Agus Raharjo/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Siswa madrasah tengah belajar di perpustakaan (ilustrasi).
Foto: Republika/Agung Supri
Siswa madrasah tengah belajar di perpustakaan (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kementerian Agama dinilai belum memiliki standardisasi pendidikan Madrasah di Indonesia. Pasalnya, bantuan pendidikan pemerintah ke madrasah masih sering salah sasaran.

Madrasah juga dinilai masih dianggap anak tiri dalam dunia pendidikan nasional. Padahal, Madrasah juga memiliki fungsi mendidik anak bangsa seperti sekolah umum.

Tanpa adanya madrasah, jumlah sekolah dianggap tidak mampu menampung jumlah anak didik yang berhak mengenyam dunia pendidikan. Wakil Ketua Komisi VIII, Jazuli Juwaini mengatakan, harus ada konsolidasi antara pemerintah dengan Madrasah.

Pemerintah harus obyektif melihat Madrasah sebagai lembaga pendidikan di Indonesia. Sebab itu, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, Madrasah juga memerlukan sarana baik tingkat lokal maupun untuk peningkatan kualitas gurunya.

Menurut Jazuli, siswa Madrasah jangan dianggap beda dengan siswa sekolah. Siswa madrasah juga banyak yang berhasil mengorbitkan siswanya menjadi juara olimpiade. "Madrasah di dunia pendidikan kita masih dianaktirikan," ungkap Jazuli, Selasa (4/12).

Jazuli menambahkan komisi VIII berencana untuk mengumpulkan 4 pihak terkait untuk membahas masalah ini. Diantaranya, Menteri Keuangan, Bappenas, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri.

Menteri keuangan dan Bappenas merupakan regulator dari anggaran Kementerian Agama untuk bantuan ke Madrasah. Kemenag sendiri sebagai eksekutor atau pengelola anggaran dari Kementerian keuangan. Sedangkan Mendagri juga dipanggil terkait adanya surat edaran yang melarang pemerintah daerah memberi bantuan pada Madrasah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement