Saturday, 28 Sya'ban 1442 / 10 April 2021

Saturday, 28 Sya'ban 1442 / 10 April 2021

Roket Tewaskan 15 Orang di Ukraina Timur

Rabu 20 Aug 2014 13:00 WIB

Red:

KIEV — Sedikitnya 15 jenazah ditemukan dari lokasi serangan roket terhadap konvoi bus dan mobil pengungsi Ukraina. Oposisi bersenjata dituding bertanggung jawab atas kejadian yang berlangsung pada Senin (18/8) di Luhansk, Ukraina Timur.

Korban tewas termasuk perempuan dan anak-anak. "Hingga pukul 19.00 pada Senin, kami baru menemukan 15 jenazah," kata Juru Bicara Militer Ukraina Andriy Lysenko, Selasa (19/8). Pencarian korban berlangsung hingga larut malam dan dilanjutkan pada Selasa. 

Juru bicara militer lainnya, Anatoly Proshin, menjelaskan, para korban dibawa dengan kendaraan militer berbendera putih. Ia menduga jumlah korban sangat banyak. Mereka terbakar hidup-hidup di dalam kendaraan yang ditumpanginya.

Pemerintah menuding separatis menggunakan senjata BM-21 Grad. Dalam bahasa Rusia berarti hujan batu es. Ini merupakan senjata menakutkan yang dapat menembakkan lebih dari dua lusin roket secara cepat. Baik Ukraina maupun oposisi mempunyai BM-21 Grad.

Namun, Andrei Purgin yang menyatakan diri sebagai Perdana Menteri Donetsk menyatakan, pasukan oposisi tak memiliki kemampuan menembakkan roket. Justru, pesawat tempur pemerintahlah yang membombardir lokasi itu dan menggempurnya dengan roket.

"Tampaknya, mereka sekarang lebih banyak menewaskan warga sipil. Mereka melakukannya selama berbulan-bulan," kata Purgin. AS mengecam insiden ini. Namun, mereka tak dapat mengonfirmasi siapa yang harus memikul tanggung jawab. 

"Kami menyampaikan dukacita kepada pengungsi di Luhansk yang menjadi korban," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Marie Harf. Mereka yang berasal dari kota kecil Khryaschuvate dan Novosvitlivka berusaha keluar dari zona perang.

Namun, akhirnya menjadi tumbal peperangan antara pemerintah dan pasukan oposisi yang didukung Rusia. Pada Jumat lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan, pertempuran di Ukraina timur menyebabkan 344 ribu orang tewas.

Kisruh di Ukraina juga belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dan entah berapa lagi korban berjatuhan. Dalam pertemuan empat negara di Berlin, Jerman, baik Rusia maupun Ukraina belum mencapai kesepakatan soal gencatan senjata dan proses politik.

Walau begitu, mereka telah bersepakat mengenai bantuan kemanusiaan. Palang Merah Internasional (ICRC) akan menangani soal ini. Rusia mengirimkan 280 truk bantuan ke Ukraina Timur untuk membantu warga di sana yang mengalami kekurangan makanan dan pasokan listrik. rep:gita amanda/ap/reuters ed: ferry kisihandi

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA