Berbuka dengan Bubur Pedas..Sedap

Red: Agung Sasongko

 Ahad 20 Jul 2014 10:06 WIB

Bubur Pedas Foto: Republika/Agung Supriyanto Bubur Pedas

REPUBLIKA.CO.ID, LANGKAT --  Pada umumnya masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, berbuka puasa di bulan Ramadhan seperti sekarang ini harus tersedia "bubur pedas" yaitu makanan khas yang sudah ada sejak zaman kerajaan Melayu dahulu kala.

"Makanan bubur pedas ini merupakan makanan kuliner warga Melayu saat berbuka puasa," kata salah seorang pembuat bubur pedas Safiah, di Stabat, Ahad (20/7).

Dikatakannya bahwa makanan khas Melayu Langkat ini sangat diminati, dan ini salah satu makanan yang wajib untuk dicicipi disetiap datangnya bulan suci Ramadhan. Konon menurut ceritanya, bubur pedas merupakan kuliner warisan Kesultanan Deli, yang selalu dinikmati selama bulan Ramadhan sejak tahun 1909.

Makanan khas Melayu ini tidak hanya lezat tapi juga bisa menjadi makanan penghangat tubuh. Dimana bubur khas Melayu ini memiliki rasa dan aroma yang sangat khas, bewarna kuning pekat dengan kuah santan kental, diirisi daun mangkokan, daun jambu biji, serta daun ketumbar.

"Sehingga membuat bubur pedas ini tidak hanya enak tapi juga menyehatkan," kata Safiah.

Safiah juga menyampaikan selain itu juga pembuatannya dengan memakai beras sebagai bahan dasar bubur, ditanak dicampur dengan berbagai macam rempah-rempah. Seperti kunyit, temu kunci, temu hitam, jintan serai, temu mangga, dan puluhan macam jenis rempah lainnya.

Sementara untuk campurannya biasanya menggunakan potongan dada ayam serta udang segar. Uniknya lagi, kata Safiah, bubur pedas juga bisa menggunakan sayuran yang biasanya tidak dipakai.

Seperti daun mangkokan, daun mengkudu, daun jeruk, daun kunyit, dan daun jambu biji, yang diiris halus dan dicampurkan saat memasaknya. Cara memasaknya juga cukup unik, dimana bubur pedas dimasak dalam panci atau wajan berukuran sangat besar, ditaruh diatas tungku dengan api kayu bakar dan digodok menjadi satu secara perlahan-lahan.

Dirinya setiap hari memasak 12 kilogram beras untuk dijadikan bubur pedas, yang harus dimasak dua kali di panci besar yang sama. Karena sesudah dimasak, nanti bubur pedas ini dapat menjadi dua ember besar, dan siap untuk dibawa ke Masjid Raya Stabat.

"Hampir setiap tahunnya kenaziran Masjid Raya Stabat selalu memesan bubur pedas," katanya.

Seiring dengan berkembangnya zaman, bubur pedas pun mengalami perubahan dalam pemakaian rempah, ini dikerenakan sebahagian besar rempah itu sudah sulit ditemukan. Meskipun begitu, pengemar bubur pedas justru semakin meningkat, tidak sedikit orang yang penasaran akan mencicipi lezatnya makanan khas Melayu untuk berbuka puasa ini.

Hal itu dibenarkan salah seorang jamaah Masjid Raya Stabat, Muhammad Azuan yang mengungkapkan betapa lezat cita rasa dari bubur pedas ini. Puluhan jamaah warga Stabat, maupun dari luar Stabat, yang akan berbuka puasa dipastikan akan menikmati bubur pedas yang disediakan masjid secara gratis untuk berbuka puasa.

"Masjid Raya Stabat menyediakan buka puasa gratis dengan bubur pedas, buat masyarakat," katanya menjelaskan.

Sementara itu pengamatan dilapangan, mulai awal Ramadhan, sepanjang Jalan Kiyai Haji Zainal Arifin dan Jalan Perniagaan Stabat, ramai diantri para pembeli hanya untuk merasakan bagaimana sedapnya bubur pedas. Terbukti setiap harinya menu bubur pedas itu menjadi incaran para warga yang akan berbuka puasa.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X