Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Gagal di Brasil, Lima Pelatih Mundur Teratur

Kamis 26 Jun 2014 18:11 WIB

Rep: C71/ Red: Citra Listya Rini

Alberto Zaccheroni

Alberto Zaccheroni

Foto: AP/Alberto Ramella

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Sosok pelatih merupakan figur penting persiapan suatu tim menghadapi persaingan ketat Piala Dunia. Setiap federasi sepak bola suatu negara berlomba-lomba menunjuk nama-nama besar dari dunia kepelatihan untuk mewujudkan cita-cita kesuksesan bangsa.

Sayangnya, nama besar pelatih belum tentu menjadi jaminan sukses. Beberapa yang gagal memilih mundur dengan alasan yang beragam. Kegagalan Italia menembus fase grup 2014 usai kekalahan kontroversial melawan Uruguay membuat Cesare Prandelli mundur.

Pelatih berusia 56 tahun itu mengambil alih kursi pelatih Gli Azzurri dari Marcelo Lippi yang kerap gagal mendulang kesuksesan usai juara dunia pada 2006. Memulai debut usai Piala Dunia 2010, Prandelli sebenarnya cukup sukses merombak skuat usang Italia.

"Saya telah berbicara kepada mereka (Federasi Sepak Bola Italia) bahwa saya akan mundur. Ketika ada kesalahan, pelatih harus bertanggung jawab," kata Prandelli seperti dikutip Reuters. Kegagalan Prandelli menjadi ulangan hasil buruk Italia di Piala Dunia 2010 karena sama-sama gagal menembus fase grup.

Pelatih Pantai Gading, Sabri Lamouchi juga gagal membawa timnya lolos ke babak 16 besar. Kalah secara kontroversial berkat penalti pemain Yunani, Georgios Samaras, pelatih asal Prancis itu memilih mundur dari jabatannya. Publik Pantai Gading memang mengidam-idamkan timnya mampu menembus fase perdelapan final.

"Kontrak saya berakhir di Piala Dunia ini. Tak akan ada kisah akhir dan anda pasti memahami alasannya," kata Lamouchi di laman resmi FIFA.

Pelatih Honduras, Luis Fernando Suarez juga menyatakan mundur usai kegagalan timnya. Honduras menempati posisi juru kunci Grup E dan hanya berhasil mencetak satu gol, satu-satunya sepanjang sejarah mereka di Piala Dunia.

"Saya tidak puas dengan apa yang kami raih di Piala Dunia. Ini adalah hari terakhir dari kontrak saya dan saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Saya ingin mengerjakan hal lain," kata Suarez.

Alberto Zaccheroni adalah nama besar di dunia kepelatihan. Sukses membawa Jepang menjadi juara Asia pada 2011, Ia langsung memasang target tinggi untuk tim samurai. Zaccheroni bertekad membawa Jepang lolos hingga perempat final. Namun apa daya, Jepang malah tersingkir di fase grup dan Zaccheroni memutuskan mundur.

"Semua orang berkumpul di sesi makan siang dan saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung tim ini. Saya akan mempertahankan pemain ini dan staf jika saja saya memiliki kesempatan lain," kata Zaccheroni.

Mungkin kisah Carlos Queiroz jadi yang paling menyedihkan di antara pelatih lain yang memutuskan mundur usai gagal di Piala Dunia. "Saya sangat bangga dan merasa terhormat bisa bekerja untuk Iran. Saya akan selalu menjaga negara dan pemain-pemain ini di hati saya. Namun anda tak bisa memiliki pernikahan jika hanya satu orang yang ingin tetap menikah," ujar Queiroz. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA