Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Bosnia dan Herzegovina Belajar Pluralisme dari Indonesia (2-habis)

Selasa 22 Apr 2014 10:57 WIB

Red: Damanhuri Zuhri

Suasana di Kota Sarajevo, Bosnia

Suasana di Kota Sarajevo, Bosnia

Foto: guardian

REPUBLIKA.CO.ID, -- Bosnia dan Herzegovina merupakan sebuah negara di Semenanjung Balkan di selatan Eropa. Bosnia dan Herzegovina menyatakan kemerdekaannya melalui Referendum tahun 1992 menyusul pecahnya Yugoslavia menjadi beberapa wilayah setelah runtuhnya rezim-rezim Komunis di Eropa Timur tahun 1991.

Pemerintahan Negara Bosnia dan Herzegovina berdasarkan sistem Presidensi yang terdiri dari tiga presiden yang mewakili masing-masing etnis yang ada yaitu Etnis Bosniak (mayoritas Islam), etnis Croatia (mayoritas Katolik) dan etnis Serbia (mayoritas Kristen Ortodok).

Lembaga Presidensi mempunyai peran penting dalam pembuatan berbagai kebijakan, namun karena prosesnya harus berdasarkan konsensus di mana masing-masing presiden mempunyai hak veto maka sulit bagi lembaga ini untuk membuat kebijakan yang solid dan terbebas dari kepentingan etnis.

Keniscayaan ini salah satunya yang mendorong Pemerintah Indonesia menjalankan misi Dialog Lintas Agama (Interfaith Dialog) ke Bosnia dan Herzegovina.

"Dialog Lintas Agama penting untuk dilakukan guna mempromosikan sikap toleransi, saling menghormati dan saling pengertian diantara masyarakat yang majemuk. Hal ini juga dilakukan untuk meningkatkan kerja sama antara Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina," kata Dubes Sujono.

Delegasi interfaith Indonesia terdari unsur Kementerian Agama, Kementerian Luar Negeri, Tokoh Agama Islam Prof Dr Faisal Ismail, tokoh Agama Katolik Pastor Agustinus Ulahayanan dan tokoh pendidikan Prof Dr Azyumardi Azra. DLA dengan Bosnia dan Herzegovina berlangsung pada 16-18 April lalu.

Pertemuan dan dialog dengan pimpinan agama setempat dan juga dengan berbagai instansi pemerintah seperti Kementerian Luar Negeri dan Kementerian HAM dan Pengungsi, pemberian Kuliah Umum di Universitas Sarajevo, serta kunjungan ke berbagai pusat peribadatan seperti Masjid, Gereja, dan Sinagok.

Salah satu masjid yang dikunjungi adalah Masjid terbesar di Sarajevo yaitu Masjid Istiqlal Sarajevo yang biasa disebut juga Masjid Indonesia.

Dalam situs Islam Bosnia disebutkan dengan jelas masjid ini adalah hadiah dari Pemerintah dan Bangsa Indonesia untuk kaum Muslim Bosnia.

Pembangunan Masjid ini dimulai Presiden Soeharto pada kunjungannya ke Sarajevo tahun 1995 dan diresmikan pada tahun 2001 pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Masjid dibangun di atas tanah seluas hampir 2.800 meter persegi dilengkapi dua menara kembar setinggi 48 meter sebagai simbol persahabatan kedua negara Indonesia dan Bosnia dan Herzegovina.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA