Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Industrialisasi Ancam Lahan dan Jumlah Petani

Ahad 20 Apr 2014 17:00 WIB

Rep: Friska Yolandha/ Red: Fernan Rahadi

Urbanisasi, industrialisasi, dan perkembangan ekonomi mendorong pertambahan penduduk di perkotaan (ilustrasi).

Urbanisasi, industrialisasi, dan perkembangan ekonomi mendorong pertambahan penduduk di perkotaan (ilustrasi).

Foto: Republika/Adhi Wicaksono

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industrialisasi dan program pembangunan menjadi salah satu penyebab turunnya luas lahan pertanian di Indonesia. Alih fungsi lahan pertanian menimbulkan kekhawatiran terjadinya penurunan produksi.

"Alih fungsi lahan sangat tinggi. Belum lagi kondisi cuaca seperti banjir dan musim kemarau," kata Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henri Saragih kepada Republika, Ahad (20/4).

Selain mempersempit lahan pertanian, industrialisasi juga membuat jumlah petani berkurang. Sejak 2003, terjadi penurunan jumlah kepala keluarga petani. Dari 31 juta kepala keluarga tani pada 2003, jumlahnya kini tinggal 26 juta kepala tani.

Soal produksi padi, Henri menilai perlu suatu audit yang komprehensif. Karena, datanya masih simpang siur. Namun tren penurunan cukup tinggi mengingat pengalihan fungsi lahan.

Meskipun demikian, produksi padi sepanjang 2013 mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Maret 2014, produksi padi pada 2013 tercatat mengalami kenaikan 3,24 persen atau 2,24 juta ton menjadi 71,29 juta ton gabah kering giling (GKG). Kenaikan produksi terjadi wi wilayah Jawa sebesar 0,97 juta ton dan luar Jawa 1,27 juta ton.

Kenaikan produksi terjadi karena kenaikan luas panen sebesar 391,69 ribu hektar atau 2,91 persen. Selain itu, kenaikan produksi disebabkan oleh kenaikan produktivitas sebesar 0,16 kuintal per hektar atau 0,31 persen.

Kenaikan produksi padi pada 2013 terjadi pada subround Januari-April dan subround September-Desember. Masing-masing mengalami kenaikan 0,27 juta ton dan 2,54 juta ton. Sedangkan pada subround Mei-Agustus terjadi penurunan sebesar 0,57 juta ton.

Sebelumnya, Masterplan Program Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) diklaim sebagai ancaman bagi pertanian Indonesia. Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian Institut Pertanian Bogor Dodik R Nurrochmat mengatakan, peningkatan pembangunan infrastruktur dan industri perdagangan membuat lahan pertanian semakin menyempit. Jutaan hektare lahan pertanian terancam beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, dan pembangunan lain.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA