Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Menenggak Ocha, Tak Sekadar Menghilangkan Dahaga

Ahad 23 Mar 2014 13:04 WIB

Rep: Meiliani Fauziah/ Red: Indira Rezkisari

Presiden SBY dalam sebuah ritual minum teh jepang di jakarta, beberapa waktu lalu.

Presiden SBY dalam sebuah ritual minum teh jepang di jakarta, beberapa waktu lalu.

Foto: Amin Madani/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Dulu, hanya kaum elite yang bisa menikmati secangkir ocha. Di negeri sakura, menyeruput ocha atau teh jepang bukan sekadar untuk menghilangkan dahaga.

Ocha adalah minuman dengan pengaruh budaya yang kental. Sekitar 800 tahun lalu, bibit teh jepang dibawa seorang pendeta Zen Budha bernama Eisai ke Jepang.

Ketika itu, ocha sebatas dimanfaatkan untuk pengobatan, bukan sebagai minuman sehari-hari.

Pakar teh Ratna Somantri mengatakan, ocha merupakan minuman yang memiliki pengaruh besar dalam kebudayaan Jepang. “Ocha itu diminum dalam segala suasana, siang dan malam,” katanya.

Budaya meminum ocha terbentuk pada abad ke-15. Kala itu, ocha juga belum bisa dinikmati untuk seluruh kalangan. Peminumnya sebatas kalangan elite Jepang, seperti para samurai, keluarga kerajaan, dan pedagang. Bahkan, ada satu set cangkir untuk meminum ocha yang hanya boleh digunakan oleh samurai dan keluarga kerajaan.

Ocha yang dijunjung tinggi harus tersaji secara benar. “Inilah cikal bakal upacara minum teh,” ujar Ratna.

Dalam upacara minum teh, ada berbagai peraturan yang harus dikuasai seorang penyaji. Tamu yang datang pada upacara minum teh biasanya bukan orang sembarangan.

Ketika memasuki ruangan upacara, semua orang harus menunduk. Peraturan ini tidak terkecuali untuk raja dan ratu. Terdapat sebuah palang pendek yang diletakkan di dekat pintu masuk.

Gerakan membungkuk menyimpan arti tertentu. “Untuk para samurai, membungkuk artinya menanggalkan kekejaman yang mereka bawa ketika berperang,” ungkap Ratna.

Ocha berbeda dengan teh hijau meski masih tergolong keluarga besar teh. Rasanya gurih, tapi tidak meninggalkan rasa pekat di mulut.

Sekilas, menyesap ocha terasa seperti sedang mengulum Monosodium glutamat(MSG). Ocha dengan kualitas premium, terang Ratna, akan terasa seperti kuah soto atau kaldu.

Daun teh ocha bentuknya panjang dan tipis. Warnanya agak berkilau, hijau seperti batu emerald. Suhu air untuk menyeduh ocha tidak boleh lebih dari 50 derajat Celcius.

“Daun teh akan pecah jika suhu terlalu panas,” sambung Ratna. Hal itu dapat membuat rasa ocha berubah.

Ocha terbaik dibuat dengan metode pemijatan daun teh. Pemijatan ini dilakukan dengan tangan selama enam jam. Daun teh dipijat di atas jotan, sebuah meja khusus yang dilapisi kertas Jepang yang tebal.

Di bawah kertas tebal tersebut, terdapat batu bara yang membuat permukaan jotan menjadi agak panas. Tujuan pemijatan ini untuk memberikan warna, kilau, rasa, dan aroma khas ocha.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA