Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Cina Bakal Konversi Massal Energi Batu Bara ke Nuklir

Jumat 21 Mar 2014 09:45 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Bilal Ramadhan

Reaktor nuklir Fukushima

Reaktor nuklir Fukushima

Foto: Kyodo

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING-- Cina tampaknya akan menyusul Jepang untuk mengonversi energi batu bara ke nuklir secara masal pada pembangkit tenaga listriknya. Hal bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dan mengurangi polusi udara yang sudah parah di negara itu.

Selama 15 tahun ke depan, pemerintah Cina sudah menyetujui untuk mengembangkan pembangkit listrik yang menggunakan unsur radioaktif thorium, bukan uranium. Tim peneliti di Shanghai mengklaim bahwa thorium ini merupakan pengembangan pertama di dunia.

"Pemerintah dulu pernah tertarik pada tenaga nuklir karena alasan kekurangan energi. Sekarang, mereka baru mau beralih ke nuklir karena polusi kabut asap," ujar Profesor Li Zhong, seorang ilmuwan yang terlibat dalam pengembangan proyek ini, dilansir dari the Guardian, Jumat (21/3).

Sebuah pusat penelitian lanjutan didirikan Januari lalu oleh Chinese Acedemy of Sciences. Tujuannya untuk mengembangkan reaktor industri nuklir dengan menggunakan teknologi garam cair thorium. Menurut Asosiasi Nuklir Dunia, Cina memiliki 20 pembangkit listrik nuklir dan 28 lainnya sedang dalam tahap pembangunan.

Namun, semua reaktornya adalah berbahan bakar uranium. Cina mengimpor sebagian besar uranium untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil. Asosiasi menilai sumberdaya thorium jauh lebih berlimpah.
Li mengatakan nuklir adalah satu-satunya solusi untuk menggantikan batu bara dan thorium membawa banyak harapan.

"Masalah batu bara ini sudah sangat jelas. Jika konsumsi energi rata-rata orang Cina menjadi ganda, mereka akan tersedak sampai mati karena polusi udara," ujar Li.

Cina memiliki program generasi nuklir yang cukup ambisius. Negara Tirai Bambu ini berencana untuk memiliki 60 giga watt (GW) listrik bertenaga nuklir pada 2020 nanti, dan 150 GW pada 2030. Inilah alasan mengapa Cina memasukkan unsur nuklir ke dalam bauran energinya.

Peneliti dari Asosiasi Nuklir Dunia, Jonathan Cobb mengatakan masih banyak hal yang belum diketahui tentang thorium. Namun, sudah banyak penelitian yang dilakukan tentang unsur ini di seluruh dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA