Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Jajanan di 315 SD Mengandung Zat Berbahaya

Kamis 20 Mar 2014 09:38 WIB

Rep: lilis/ Red: Damanhuri Zuhri

Jajanan sekolah (Ilustrasi)

Jajanan sekolah (Ilustrasi)

Foto: ANTARA/Saiful Bahri

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Jajanan yang mengandung bahan kimia berbahaya, terus mengancam anak-anak. Di Kabupaten Indramayu, jajanan tersebut terdapat di 315 sekolah dasar (SD).

Kasubdin Promosi Kesehatan (Promkes) Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Yahya, menjelaskan, fakta tersebut diketahuinya berdasarkan penelitian pada 2013 lalu.

Saat itu, pihaknya melakukan penelitian di 943 SD, dengan sistem sampling satu daerah satu sekolah. ''Jajanan di 315 SD itu mengandung formalin, boraks, rhodamin B dan methanil yellow,'' ujar Yahya, Rabu (19/3).

Yahya menyebutkan, bahan-bahan berbahaya itu terdapat pada jajanan berupa mie, tahu, siomay, nugget, sosis, sukoi, telor mie dan baso. Selain itu, usus ayam, krupuk, cilok, lontong, simping, bolu, gulali, es sirop, es serut hingga berbagai bentuk manisan.

Menurut Yahya, bahan-bahan berbahaya yang terdapat dalam jajanan anak SD tersebut baru akan terasa dampaknya setelah sepuluh tahun.

Dia mengatakan, bahan-bahan berbahaya yang terakumulasi dalam tubuh itu bisa menyebabkan penyakit kanker.

''Kami sudah meminta kepada para pedagang untuk tidak menjual kembali makanan yang mengandung zat berbahaya,'' tutur Yahya.

Yahya menilai, peran orang tua sangat penting untuk melindungi anak-anak mereka dari makanan yang mengandung bahan berbahaya. Dia meminta agar para orang tua memiliki pengetahuan tentang ciri-ciri makanan yang berbahaya.

''Makanan yang mengandung zat berbahaya ciri-cirinya memiliki kekenyalan yang berlebih, warna yang mencolok, serta lebih awet,'' tutur Yahya.

Yahya menambahkan, peran orang tua untuk memberi tahu anaknya mengenai makanan berbahaya lebih penting dibandingkan dengan menghukum pedagang.

Pasalnya, jika tidak ada konsumen yang membeli makanan berbahaya, maka secara otomatis pedagang tidak akan lagi berjualanan makanan tersebut.

Tahun ini, ia berencana melakukan penelitian dengan mengambil 720 sample. Tak hanya di sekolah, namun penelitian juga akan dilaksanakan di pasar dan pedagang kaki lima. ''Penelitian akan dilakukan secara bertahap, sekitar April sampai November,'' terang Yahya.

Seorang ibu rumah tangga di Desa Singaraja, Kecamatan Indramayu, Ani Susiani, mengaku sangat khawatir dengan jajanan di sekolah anaknya.

Karena itu, dia lebih memilih untuk membuatkan bekal makanan dari rumah bagi putrinya yang duduk di kelas dua SD. ''Serem melihat jajanan di sekolahnya. Makanannya berwarna sangat mencolok,'' kata Ani.
 


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA