Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Unjuk Rasa Pro dan Anti Presiden Maduro di Karakas

Ahad 23 Feb 2014 15:38 WIB

Red: Julkifli Marbun

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro

Foto: whatsnextvenezuela.com

REPUBLIKA.CO.ID, KARAKAS -- Ratusan ribu warga Venezuela turun ke jalan-jalan Karakas dalam unjuk-unjuk rasa mendukung dan menentang pemerintah Presiden Nicolas Maduro Sabtu, sementara negara itu dilanda perpecahan.

Protes-protes itu yang dimulai 4 Februri dianggap sebagai ujian terbesar bagi pemimpin sosialis Maduro sejak ia menggantikan tokoh kiri Hugo Chavez tahun lalu, dengan masalah-masalah ekonomi sering menimbulkan korban jiwa yang menewaskan setidaknya 10 orang dan sejumlah lainnya cedera.

Unjuk-unjuk rasa antara dua kelompok yang bersaing di ibu kota itu menimbulkan perpecahan yang mendalam antara mereka yang mendukung Maduro dan mereka yang menentang dia, di negara kaya minyak itu yang kendatipun memiliki cadangan terbesar di dunia dilanda kekurangan kebutuhan pokok, inflasi yang merajela dan kejahatan.

Hanya 24 jam setelah Maduro mengajukan usul kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk berunding guna mengakhiri permusuhan lebih dari sepuluh tahun, nampaknya tidak ada prospek pendekatan setelah Menlu AS John Kerry mengecam penanganan pemerintah Venezuela terhadap protes-protes itu.

Dengan memperhatikan seruan pemimpin oposisi Henrique Capriles, yang kalah menghadapi Maduro dalam pemilu untuk menggantikan Chavez tahun lalu, setidaknya 50.000 pemrotes anti-pemeritnah memenuhi beberapa ruas jalan di daerah Sucre, Karakas.

Para pemrotes menuntut perlucutan senjata kelompok-kelompok yang dituduh mengintimidasi dan bahkan menyerang para demonstran.

Negara harus menghentikan kelompok-kelompok paramiliter ini," kata ketua koalisi oposisi utama Ramon Guillermo Aveledo."Tidak dapat diterima ada kelompok-kelompok bersenjata yang berada diluar kendali."

"Saya tidak dapat berdiam diri daam situasi sekarang. Tidaklah adil bahwa kita berada dalam salah satu dari negara-negara terkaya dunia dan masih tidak dapat memperoleh makanan, kata mahasiswa Joel Moreno, 24 tahun kepada AFP.

Sementara itu puluhan ribu pendukung pemerintah, sebagian besar wanita yang membawa bunga-bunga dan mengenakan pakaian warna merah dan putih berkumpul di pusat kota itu.

Sejumlah dari para pendukung Maduro, yang mengenakan bendera nasional, mengecam protes-protes mahasiswa.

"Venezuela adalah satu negara damai dan mereka tidak dapat datang ke sini dan berusaha mengubaha apa yang ada," kata Josefina Lisset, 54 tahun.

"Mereka harus mengizinkan presiden ini memeritnah, ia dipilih secara demokratis."

Pada Sabtu Maduro yang membantah memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok bersenjata, mengutarakan satu prakarsa perdamaian baru--sepekan setelah strategi keamanan publik nasional disusul dengan protes-protes.

"Saya mengimbau kepada rakyat Venezuela untuk bergabung dengan saya Rabu dalam satu konferensi perdamaian nasional dengan semua sektor politik negara itu .. agar kita warga Venezuela dapat berusaha melumpuhkan kelompok-kelompok perusuh," katanya.

Kendatipun para pendukung dari kelompok-kelompok yang bereteru tumpah ruah di jalan-jalan di daerah berbeda ibu kota itu, kemananan ketat di tengah-tengah adanya kehawatiran bentrokan lebih jauh meletus jika mereka bertemu.

Ketua Organisasi Negara Amerika (OAS), blok regional bagi Amerika, mengambangkan gagasan untuk menjadi penegah internasional.

Sementara itu dalam unjuk rasa Sabtu, para pejabat medis mengumumkan seorang wanita berusia 23 tahun yang ditembak tiga hari lalu di kota Valencia, Venezuela utara meninggal akibat luka-luka yang dideritanya, menambah jumlah korban tewas sehubngan dengan unjuk rasa itu menjadi 10 orang.

Aksi protes yng dimulai di kota San Cristobal yang dipimpin mahasiswa yang marah akibat tingkat kejahatan -- meningkat akibat aksi kekerasan dan usaha-usaha untuk mengintimidasi para pemerotes.

Maduro menegaskan protes-protes itu adalah bagian dari satu "kudeta" yang dihasut oleh Washington dan mantan presiden Kolombia Alvaro Uribe yang dianggap dekat dengan AS.

sumber : Antara/AFP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA