Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Pemimpin Politik Diminta Teladani Nabi

Rabu 15 Jan 2014 14:53 WIB

Rep: amri amrullah// Red: Damanhuri Zuhri

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Foto: smileyandwest.ning.com

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Esthi Maharani

JAKARTA  -- Pemimpin dan umat Islam dituntut meneladani sifat Nabi Muhammad SAW. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan sangat penting untuk meniru ikhtiar serta akhlak Nabi yang mulia dan terpuji.

"Nabi mengingatkan kepada kita agar terus berikhtiar dan bekerja keras. Tidak bermalas-malasan dan mengeluh, apalagi hidup menggerutu," kata Presiden dalam sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Silang Monas, Jakarta, Selasa (14/1) pagi.

Selain bekerja keras, Nabi tak pernah berhenti menuntut ilmu dan memimpin perubahan besar. Kepemimpinannya juga sangat agung. Nabi mampu memimpin masyarakat majemuk dengan baik. Hingga kemudian, Islam mewujud sebagai rahmat bagi semua.

Presiden berpesan, pemimpin Indonesia ke depan mestinya juga mencontoh Nabi. Salah satunya, menjaga ukhuwah serta toleransi di tengah masyarakat Indonesia yang plural. Ia berharap tahun 2014 yang merupakan tahun pemilu bisa berjalan damai.

Teladan kepemimpinan Nabi juga ditekankan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas. Bagi dia, Maulid Nabi adalah pesan penting agar umat Islam memilih pemimpin seperti Nabi, yang berintegritas, kredibel, komunikatif, dan kreatif serta inovatif.

Nabi Muhammad SAW selalu mementingkan rakyatnya, bukan kepentingan dirinya sendiri. Nabi pantang untuk menelantarkan mereka yang dipimpinnya. "Dia tak makan enak sebelum rakyatnya bisa makan enak," ujar Yunahar mencontohkan.

Menurut pimpinan Majelis Rasulullah Habib Ahmad bin Jindan, Muslim sebagai penduduk mayoritas berkewajiban mencari pemimpin yang melindungi Islam. Ini bisa terwujud kalau pemimpin itu memiliki hubungan dekat dengan Allah SWT.

Hubungan pribadi yang baik dengan Allah akan berpengaruh pada hubungan dengan rakyatnya. Nabi Muhammad SAW melakukan itu. Saat memimpin di Makkah dan Madinah, Nabi melakukannya dengan adil. Umar bin Khattab, salah seorang sahabat, berhasil menjalankan kebijakan serupa Nabi.

Suatu saat, Umar susah payah mencari menteri dan pejabat negara lantaran khalifah ini enggan memilih pejabat yang tidak saleh. Bagi Umar, pejabat semacam itu akan cenderung mengabaikan tanggung jawab melayani masyarakat.

Dalam riwayat lain, kata Habib Ahmad, Umar jarang tidur pada siang maupun malam hari hingga akhirnya ia letih. Ini karena Umar selalu mengingat pesan Nabi agar tak mengabaikan amanah. Masyarakat yang ia pimpin harus sejahtera.

Sedangkan, Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yaqub memandang Maulid Nabi sebagai kesempatan mengoreksi misi keumatan. Ini berarti, ada instrospeksi apakah kehidupan umat Islam sudah sesuai atau belum dengan ajaran Nabi.

Nabi pernah memberikan peringatan akan datang suatu masa umat Islam tak menjadikannya sebagai teladan. Syariat dan ajaran Nabi tak diikuti malah ditinggalkan. "Kita harus khawatir kalau apa yang diperkirakan Nabi sudah terjadi saat ini," kata Ali.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara Yamin Hadad berharap penyakit sosial teratasi. Momentum Maulid Nabi sangat tepat sebagai pijakan perubahan ke arah yang lebih baik di tengah kondisi praktik korupsi, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, dan tindakan tercela lainnya kian merebak.

Nabi, kata dia, sosok yang jujur dan menjauhi semua barang memabukkan. "Setiap Muslim mestinya menanamkan seluruh hal baik tersebut dalam dirinya." Menurut Yamin, semua bisa dilakukan melalui unit terkecil di masyarakat, yaitu keluarga.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA