Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Dua Tahun Penantian Jilbab Anita

Jumat 10 Jan 2014 15:08 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Anita Whardani

Anita Whardani

Foto: Republika/Ahmad Baraas

Oleh Ahmad Baraas

REPUBLIKA.CO.ID, "Sudah dua tahun saya menyimpan baju seragam khas ini," kata Anita Whardani saat ditemui RoL di Denpasar, Jumat (10/1).

Sambil berbincang, tangan mungilnya masih menggenggam dua setel seragam sekolah dilengkapi dengan sepotong kerudung berwarna putih.

Blus putih lengan panjang dengan rok panjang putih, serta setelan blus putih lengan panjang dan rok panjang berwarna abu-abu. Kedua seragam itu masing-masing untuk seragam sekolah untuk Senin, Selasa, hingga Rabu dan Kamis. Untuk Jumat, Anita akan mengenakan pakaian batik, sedangkan Sabtu mengenakan pakaian bebas.

Seragam itu baru beberapa kali dikenakan Anita. Dia tidak mengenakannya lagi setelah mendapat teguran dari pihak sekolah pertengahan 2012. Anita menunjukkan tekadnya mengenakan seragam khas ke sekolah, bukan karena siapa-siapa.

Menurutnya, berjilbab merupakan bukti kesadarannya memenuhi kewajiban sebagai Muslimah yang sudah akil balig. Dia pun menabung sedikit demi sedikit untuk bisa membeli baju yang disebut 'seragam khas' itu. "Saya membelinya dari uang tabungan saya, dan ini tidak meminta kepada orang tua," kata Anita.

Perkenalan anak bungsu dari tiga bersaudara itu dengan jilbab sudah dimulai sejak dia berada di sekolah dasar. Sekitar 2010, ketika bersekolah di SMP Muhammadiyah 1 Denpasar, salah seorang temannya bernama Arfita sudah berjilbab. Dia pun mendorong Anita untuk terus berjilbab.

Anita pun bersepakat dengan temannya itu. Saat bepergian, mereka kerap mengenakan jilbab. Anita semakin meyakini jilbab sebagai kewajiban, setelah  belajar mengaji di organisasi pelajar untuk Muslim, yakni Pelajar Islam Indonesia (PII).

Komunikasi yang kurang aktif antara Anita dengan pihak sekolah membuat keinginan pelajar kelahiran April 1996 itu untuk bisa berjilbab di sekolah jadi terhambat. Kian hari, dia kian risau karena harus membuka aurat saat berada di sekolah.

"Saya jadi gelisah, karena saya tahu kalau menutup aurat merupakan kewajiban agama. Sementara di sisi lain saya tidak bisa melaksanakannya."

Maraknya pemberitaan yang memprotes larangan Anita untuk berjilbab di sekolah, membuatnya terharu. Anita menyatakan sangat menghormati para pembina dan guru-gurunya di sekolah. Karena itu dia akan menghadap kepala sekolah, untuk meminta dukungan terhadap keinginannya itu.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA