Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Guru Besar UI Beri Apresiasi Film Soekarno

Senin 23 Dec 2013 17:08 WIB

Rep: M Akbar/ Red: Hazliansyah

pengunjung melintas di depan jajaran poster pada gala premiere film karya Sutradara Hanung Bramantyo berjudul

pengunjung melintas di depan jajaran poster pada gala premiere film karya Sutradara Hanung Bramantyo berjudul "Soekarno: Indonesia Merdeka" di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (9/12).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru besar sejarah Universitas Indonesia (UI), Anhar Gonggong, memberi apresiasi positif pada sutradara film Soekarno, Hanung Bramantyo. Menurut Anhar, Hanung telah berhasil memberikan sesuatu yang baru mengenai sosok proklamator RI tersebut.

"Sebagai tokoh besar dalam sejarah Indonesia, sosok Soekarno sudah tidak lagi menjadi milik keluarga atau keturunannya. Masyarakat juga memiliki hak sama sehingga boleh membuat penilaian sendiri, termasuk saat yang bersangkutan diwujudkan dalam film Soekarno karya sutradara Hanung Bramantyo," kata Anhar dalam siaran pers yang diterima Republika di Jakarta, Senin (23/12).   

'Soekarno' menjadi salah satu mahakarya biography picture (biopic) teranyar yang digarap oleh Hanung. Film ini ditayangkan pula di Filipina, Timor Leste, Vietnam, Jepang dan Belanda.

Anhar menyarankan agar pihak keluarga tidak merasa paling berhak membuat interpretasi dan menyalahkan orang luar terkait penilaian mengenai Soekarno.

"Tanpa menafikan atau mengurangi penghormatan terhadap keluarga Soekarno yang merasa ada hal yang tidak sesuai dengan pandangan mereka tentang Soekarno dalam film itu, tentunya kita juga harus memberi penghormatan kepada pihak-pihak lain yang ingin mengangkat sosok sang tokoh dalam bentuk berbeda," kata dia.

Dalam pandangan Anhar, film yang dibuat Hanung tersebut sudah sepantasnya mendapat apresiasi. Ia yakin film ini dipersiapkan secara serius dan tidak asal jadi. "Karena ini bentuk kekagumannya juga terhadap sang tokoh," kata sejarawan LIPI ini.    

Anhar menyadari sebagai sebuah karya seni, terkadang sebuah film tidak semata-mata memuat fakta sejarah saja. Di sana juga, kata dia, ada penafsiran dan hal-hal yang terkait artistik sehingga banyak interpretasi yang kadang tidak sama seperti yang umum diketahui masyarakat.

"Dengan demikian masyarakat memiliki pemahaman baru tentang Soekarno dari film itu," kata dia. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA