Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Wednesday, 18 Zulhijjah 1442 / 28 July 2021

Aktivis Mahasiswa Diajak Nonton Film Soekarno

Sabtu 21 Dec 2013 10:40 WIB

Rep: M Akbar Wijaya/ Red: Dewi Mardiani

Poster film Soekarno.

Poster film Soekarno.

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ormas Pemuda Taruna Merah Putih (TMP) menginisiasi nonton bareng film Soekarno. TMP Mengundang para aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi untuk menilai langsung secara objektif narasi film karya Hanung Bramantyo tersebut.

"Kita tidak bisa mengkritik kalau belum nonton. Pro-kontra dan kritik itu hal biasa dalam demokrasi tapi tetap harus objektif," kata Maruarar kepada wartawan sebelum acara nonton bareng di XXI Plasa Senayan, Jumat (20/12) malam.

Usai nonton bareng, Marurarar mengajak para tokoh organisasi mahasiswa menyampaikan pandangan tentang film Soekarno. Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Adriana menilai film Soekarno cukup mengispirasi gerakan kepemudaan. Namun dia tidak memungkiri ada sejumlah adegan yang terkesan mereduksi peran sejarah Soekarno.

Masukan dan kritik juga disampaikan Ketua Umum HMI, Ketua Umum GMKI, Ketua Umum Hikmahbudi, dan Ketua Ansor. Mereka berharap masukan dan kritik bisa menjadi catatan penting bagi perbaikan film Soekarno ke depan.

Sementara itu Maruarar menilai film Soekarno lebih cocok disebut sebagai film roman daripada film perjuangan. Hal ini karena, menurutnya, film ini lebih menonjolkan sisi romantisme Soekarno daripada heroisme. "Kisah-kisah romantisme Bung Karno dengan Bu Inggit Garnasih dan Bu Fatmawati sangat dominan dalam film ini," ujar Maruarar.

Maruarar juga menyoroti adegan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya film karya Hanung memberi kesan kemerdekaan Indonesia diperoleh dari hadiah Jepang. Padahal, menurut Maruarar, kemerdekaan Indonesia diraih dari hasil perjuangan rakyat. "Kemerdekaan merupakan hasil jerih payah semua pejuang, dan itu direbut, bukan diberikan," katanya.

Maruarar juga mengkritik pengadegan dibuangnya Soekarno oleh beranda. Menurut Maruarar semestinya adegan pembuangan Soekarno di Endeh tidak hanya digambarkan sambil lalu. Hal ini karena Endeh merupakan tempat Soekarno menggali dan menemukan gagasan Pancasila.

Terlepas dari sejumlah kekurangan yang melingkupinya, Maruarar mengatakan ada pelajaran penting yang bisa diambil dari film Soekarno. Dari sosok Soekarno penonton bisa tahu bahwa kondisi sosial dan politik yang berkembang bisa melahirkan strategi yang berbeda "Apapun strateginya, harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip dan idealisme. Itu jangan luntur," kata Maruarar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA