Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Menjelang Akhir Kepemimpinan Karzai di Afghanistan

Ahad 17 Nov 2013 22:48 WIB

Rep: Ichsan Emrald Alamsyah/ Red: Citra Listya Rini

Presiden Afghanistan, Hamid Karzai

Presiden Afghanistan, Hamid Karzai

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, Pemilu Afghanistan 12 tahun telah berlalu semenjak Amerika Serikat (AS) menginvasi negeri itu. Sejak itu praktis kehidupan rakyat Afghanistan banyak berubah.

Di satu sisi rakyat Afghanistan lepas dari rezim Taliban yang mengekang. Perempuan menjadi salah satu 'kaum' yang segera mendapatkan kebebasan. Mereka bisa meraih pendidikan, bebas keluar rumah bahkan mencalonkan diri menjadi presiden.

Sementara di sisi lain, Taliban yang menyebut pemerintah rezim Hamid Karzai sebagai boneka, terus merongrong keamanan Afghanistan. 

Praktis, selama ini Afghanistan begitu bergantung kepada pasukan NATO, khususnya AS. Sepanjang kurang lebih 11 tahun, ada yang tak berganti di Afghanistan. Presiden Hamid Karzai, semenjak 22 Juni 2002 terus memimpin negara itu hingga saat ini. Namun, ia harus mundur awal tahun depan. 

Komisi Pemilihan Independen, telah menerima beberapa nama, mulai dari teknokrat, mantan menteri hingga mantan pejuang. BBC melaporkan 22 nama telah mencalonkan diri. Mereka siap ikut walau ada persyaratan berat yang menghadang. 

Siapapun pemenang diantara mereka, tentu saja harus menghadapi tantangan berat menjaga keamanan. Apalagi pasukan asing akan meninggalkan Afghanistan. Meskipun, Ahad (17/11) pemerintah Afghanistan menandatangani perjanjian dengan AS. 

Afghanistan mengizinkan 'beberapa' pasukan AS tetap tinggal di negara itu pascapenarikan besar-besaran akhir 2014. Selain itu, presiden baru juga memiliki kewajiban membangun ekonomi dan pendidikan di Afghanistan. Taruhannya memang tinggi karena miliar dolar bantuan siap datang tergantung dari siapa yang memimpin.

Ketika awal menjabat, Hamid Karzai mengatakan seluruh wilayah di Afghanistan memerlukan bantuan. Sehingga pada dasarnya Afghanistan memang membutuhkan bantuan miliar dolar untuk mengatasi kesulitan. 

Kesulitan, kata Karzai, dalam bidang ekonomi dan infrasktruktur. Belum lagi untuk membangun kembali industri, pertanian, sekolah dan rumah sakit di Afghanistan

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA