Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Anda Perempuan Lajang dan Berusia di Atas 30 Tahun? Baca Ini Dulu

Senin 18 Nov 2013 15:38 WIB

Rep: Indah Wulandari/ Red: Endah Hapsari

Perempuan lajang/ilustrasi

Perempuan lajang/ilustrasi

Foto: rolereboot.org

REPUBLIKA.CO.ID, Siklus organ reproduksi perempuan ternyata berpengaruh pada tingkat risiko teridap kanker payudara. Perempuan lajang dan melahirkan di atas usia 30 tahun, termasuk orang yang memiliki risiko tinggi penyakit tersebut. “Wanita yang tidak menikah ataupun tidak mempunyai anak itu memiliki 1,5 kali lipat lebih besar mengalami kanker payudara dibandingkan wanita yang sudah memiliki anak tiga,” ujar onkologis dari Divisi Hematologi & Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr Ronald A Hukom MHSc, SpPD-KHOM.

Spesifikasi golongan perempuan dengan berisiko tinggi kanker payudara disebut Ronald ada lima hal. Di antaranya, seseorang yang memiliki riwayat kanker, perempuan yang melahirkan anak pada usia di atas 30 tahun, tak memberikan ASI kepada anaknya, terlalu muda untuk mengalami menstruasi, serta tak memiliki anak.

Perempuan yang memiliki riwayat keluarga mengidap kanker payudara dengan interval silsilah keturunan satu tingkatan juga rentan teridap. Misalnya, sang ibu mengalami kanker payudara secara otomatis anak perempuannya memiliki dua kali lipat risiko terkena kanker payudara dibanding orang yang tidak memilikinya. 

Kasus lainnya, bila seseorang memiliki dua orang yang memiliki kanker payudara dalam satu tingkatan keluarga, risiko teridap bisa meningkat tiga sampai lima kali lipat. Hal ini, menurut Ronald, disebabkan faktor genetik. Penyebab kanker payudara juga hormon estrogen yang tak terkendali. Kondisi tersebut diidentifikasi di kelompok perempuan yang melahirkan anak di atas usia 30 tahun. Mereka memiliki dua sampai tiga kali lipat risiko lebih besar dibandingkan wanita yang melahirkan di atas 20 tahun. 

Begitu juga bagi perempuan yang tak memberikan ASI saat masa pertumbuhan bayi memiliki risiko 2,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan wanita yang memberikan ASI kepada anaknya. “Ini karena ketika seorang wanita hamil, produksi estrogen meningkat. Peningkatan kadar estrogen inilah yang menyebabkan payudara semakin membesar. Proses laktasi dimulai dan ASI pun mulai terbentuk di payudara,” ujar Ronald.

Terlepas dari ragam kondisi tersebut, ia memastikan bahwa setiap perempuan memang berisiko menderita kanker payudara bila menjalani pola hidup yang tidak sehat. Ancaman tersebut bahkan juga merembet pada kaum pria.

Saat ini kanker payudara masih menempati urutan kedua terbanyak yang diderita oleh kaum perempuan setelah kanker serviks (leher rahim). Oleh karena itu, penting bagi kaum Hawa untuk bisa mengenali lebih dini ciri-ciri kanker payudara sehingga jika ditemukan dalam stadium awal, kesempatan untuk sembuhnya masih tinggi. “Meski demikian, bagi Anda yang tidak memiliki faktor risiko bukan berarti bebas dari penyakit ini. Siapa pun dapat menderita kanker payudara,” kata Ronald.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA