Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Perajin Rotan Sulit Peroleh Bantuan Permodalan

Kamis 24 Oct 2013 16:35 WIB

Rep: Lilis Handayani/ Red: Nidia Zuraya

Perajin Rotan

Perajin Rotan

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Pascapenghentian izin ekspor bahan baku rotan, pesanan furniture rotan dari berbagai negara terus berdatangan. Namun, para pengrajin rotan kerap tidak dapat memenuhi semua permintaan itu akibat keterbatasan modal. ‘’Karena modalnya kurang, pesanan yang dipenuhi tidak bisa 100 persen,’’ ujar Ketua Masyarakat Pekerja Pengrajin Rotan Seluruh Indonesia (MPPRSI), Badrudin, Kamis (24/10).
 
Badrudin menyebutkan, pesanan furniture rotan itu berdatangan dari negara-negara di Eropa Timur, Eropa Barat dan Afrika. Bahkan, pesanan dari Amerika Serikat juga mulai ramai seiring lesunya furniture rotan dari Cina yang kini mengalami kesulitan bahan baku rotan.
 
Menurut Badrudin, saat industri furniture rotan di Cirebon mengalami masa keemasan sebelum 2005-an, berbagai lembaga perbankan dengan mudah membuka kredit untuk para pengrajin rotan. Karenanya, para pengrajin rotan dapat mengembangkan usahanya tanpa terkendala sulitnya modal.
 
Namun, lanjut Badrudin, saat ekspor bahan baku rotan dibuka pemerintah, industri furniture rotan Cirebon menjadi terpuruk. Para pengrajin rotan pun sulit mendapat bantuan permodalan dari perbankan.
 
Badrudin menambahkan, kondisi tersebut terjadi hingga saat ini. Padahal, ekspor bahan baku rotan telah ditutup pemerintah dan industri furniture rotan Cirebon mulai kembali menggeliat. ‘’Kami harapkan ada campur tangan dari pemerintah untuk mengatasi masalah permodalan ini,’’ tuturnya.
 
Ia menilai, pemerintah bisa mengupayakan bantuan permodalan bagi para pengrajin rotan melalui lembaga perbankan. Selain itu, bantuan pun bisa diberikan melalui koperasi ataupun bantuan lunak dengan jaminan.
 
Badrudin mengungkapkan, modal yang dibutuhkan oleh para pengrajin dalam memenuhi pesanan dari para buyer, sangat besar. Bahkan, bila bertemu dengan buyer besar, maka modal yang dibutuhkan oleh pengrajin rotan bisa mencapai miliaran rupiah.
 
Seperti diketahui, Cirebon merupakan sentra industri furniture rotan di Indonesia. Bahkan, bisa mengekspor furniture rotan ke berbagai negara hingga bisa mencapai 4.000 kontainer per bulan. Namun, kejayaan tersebut memudar saat pemerintah membuka keran ekspor bahan baku rotan pada 2005. Ekspor furniture rotan pun turun drastis hingga mencapai sekitar 800-1.000 kontainer per bulan.
 
Badrudin mengungkapkan, saat keran ekspor bahan baku rotan ditutup pemerintah pada akhir 2011 lalu, ekspor furniture rotan mulai menggeliat kembali hingga mencapai 1.500-2.800 kontainer per bulan. Bahkan, kini mulai merebut pasar Amerika Serikat yang semula didominasi Cina.
 
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, Haki, membenarkan meningkatnya kembali ekspor furniture rotan Cirebon. Hal itu terjadi seiring ditutupnya kran ekspor bahan baku rotan oleh Pemerintah pada akhir 2011 lalu. ‘’Ya pengaruhnya sangat bagus terhadap perkembangan ekspor furniture rotan Cirebon,’’ tandas Haki.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA