Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Parlemen Kamboja Angkat Hun Sen Sebagai PM

Selasa 24 Sep 2013 11:35 WIB

Red: Taufik Rachman

Perdana Menteri Hun Sen

Perdana Menteri Hun Sen

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Parlemen Kamboja pada Selasa kembali mengangkat Hun Sen sebagai Perdana Menteri untuk lima tahun ke depan di tengah sengketa hasil pemilu yang memenangkan sang petahana.

Parlemen Kamboja tetap melakukan langkah tersebut meskipun massa telah melakukan demonstrasi dan kelompok oposisi telah memboikot Dewan Nasional. Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP) menduga telah terjadi kecurangan besar dalam pemilu Juli lalu.

CNRP menolak untuk turut ambil bagian dalam sesi pembukaan Majelis Rendah pada Senin, mereka mengatakan bahwa demokrasi di kerajaan Kamboja telah berubah menjadi "kediktatoran".

Sebanyak 68 anggota legislatif dari partai pemenang pemilu pada Selasa mengesahkan anggota kabinet dengan Hun Sen sebagai Perdana Menteri.

CNRP, yang menuntut pembentukan tim independen untuk menyelidiki hasil pemilu Juli, menyebut badan legislatif Kamboja sebagai "palemen satu partai."

"Kami jujur pada rakyat, kami jujur pada negara. Kami tidak akan pernah mengkhianati kehendak rakyat," kata pemimpin oposisi Sam Rainsy dalam sebuah video yang dirilis pada Senin.

Menurut hasil resmi pemilu, Partai Rakyat Kamboja (CPP) berhasil memperoleh 68 kursi parlemen sementara CNRP 55. Perolehan tersebut sudah cukup untuk meloloskan Hun Sen dan menteri-menterinya di Majelis Rendah dalam sistem parlementer Kamboja.

Namun, beberapa pengamat mengatakan bahwa pemerintah yang baru terbentuk itu tidak akan mendapatkan legitimasi politik jika di masa depan mengusulkan diberlakukannya sebuah peraturan tanpa kehadiran oposisi di parlemen.

"Hun Sen harus waspada terhadap potensi adanya kerusuhan sosial karena rakyat Kamboja menilai CPP--dan Hun Sen--telah berkuasa tanpa legitimasi," kata Ou Virak, presiden Pusat Hak Asasi Manusia Kamboja.

Sebelumnya, sekitar 10.000 pendukung oposisi bergabung dalam demonstrasi yang berlangsung tiga hari di ibu kota pada awal bulan ini. Salah seorang pengunjuk rasa ditembak mati dan beberapa lainnya terluka saat terjadi bentrok dengan pihak keamanan.

Hun Sen kemudian sepakat untuk menemukan solusi damai mengenai sengketa pemilu dalam pembicaraan bersama rival utamanya, Rainsy. Namun dia menolak usulan adanya penyelidikan independen.

Mantan anggota Khmer Merah berusia 61 tahun itu pernah mengatakan bahwa dia ingin tetap berkuasa di Kamboja sampai usianya menginjak 74 tahun.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA