Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

Monday, 4 Safar 1442 / 21 September 2020

HNW: Indonesia Dijaga dari Kaum Profesional

Ahad 15 Sep 2019 21:17 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat memberi Sosialisasi Empat Pilar kepada ratusan anggota dan pengurus GENPRO Sulawesi Selatan, Makassar, (15/9).

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat memberi Sosialisasi Empat Pilar kepada ratusan anggota dan pengurus GENPRO Sulawesi Selatan, Makassar, (15/9).

Foto: mpr
HNW mengajak GENPRO ikut manjaga Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID,MAKASSAR -- Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) bekerja sama dengan GENPRO Wilayah Sulawesi Selatan untuk melakukan Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kegiatan sosialisasi telah dikerjasamakan dengan berbagai ormas, organisasi pemuda, kampus, dan kelompok masyarakat lainnya.

Baca Juga

Di hadapan generasi yang fokus pada dunia wirausaha dan kreativitas itu, HNW mengatakan bangsa Indonesia dilahirkan oleh kaum profesional dan mencintai Indonesia. Disebut dalam anggota BPUPKI, mereka adalah orang-orang yang ahli, seperti Mohammad Hatta ahli ekonomi lulusan Belanda, demikian pula ahli-ahli hukum yang juga lulusan perguruan tinggi yang hebat.

"Kalau bicara profesionalisme, Indonesia lahir dari mereka. Indonesia tumbuh dari kalangan profesionalisme tak hanya pada masa lalu. Prof. BJ Habibie juga seorang profesional dan mencintai Indonesia," kata dia saat memberi Sosialisasi Empat Pilar kepada ratusan anggota dan pengurus GENPRO Sulawesi Selatan, Makassar, (15/9).

photo
saat memberi Sosialisasi Empat Pilar kepada ratusan anggota dan pengurus GENPRO Sulawesi Selatan, Makassar, (15/9).

Bagi HNW, sosialisasi nilai-nilai kebangsaan itu tak mungkin bila hanya dilakukan oleh MPR. Salah satu alasannya, MPR tak mempunyai perwakilan di daerah.

Untuk itu dirinya mengajak eksekutif ikut melakukan hal yang sama seperti Orde Baru dengan membentuk BP7 dan melaksanakan Penataran P4. "Meski demikian metode sosialisasi yang dilakukan oleh MPR bukan dengan cara indoktrinisasi tapi secara demokrasi," kata dia.

Sosialisasi yang sekarang dilakukan berlandaskan pada UU. No.17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. Dengan undang-undang itu maka seluruh anggota MPR diberi amanat untuk melakukan sosialisasi.

Apa yang disosialisasikan menurut HNW adalah bagian dari tuntutan Gerakan Reformasi 1998. Dipaparkan, salah satu tuntutan reformasi pada masa itu adalah dilakukannya amandemen UUD Tahun 1945.

"Amandemen boleh dilakukan, yang tak boleh adalah mengubah Pembukaan UUD," tuturnya.

Penanaman pemahaman nilai-nilai kebangsaan ditegaskan oleh HNW sangat penting. Gerakan itu untuk membangunkan kesadaran akan nilai-nilai kebangsaan. "Juga untuk mengantisipasi tantangan global", ucapnya.

Dia mengingatkan Uni Soviet sebagai negara adidaya pada masanya bisa pecah. Terpecahnya negara yang disegani oleh Amerika Serikat itu menurut HNW karena adanya kebijakan Glasnot dan Perestroika.

"Mereka hancur bukan karena tembakan namun karena kebijakan seperti itu," ungkapnya.

Indonesia luasnya lebih kecil dibanding Uni Soviet. Namun Indonesia lebih banyak memiliki suku serta sebagai negara kepulauan yang terpisah-pisah wilayahnya sehingga potensi perpecahan itu ada. Untuk itu dirinya mengajak kepada semua melaksanakan nilai-nilai Pancasila.

Menurut Ketua GENPRO Sulawesi Selatan, Rusdi Hidayat, bangsa ini sebenarnya memiliki sumber daya alam yang besar. Namun sayang hal demikian belum dikelola secara maksimal oleh bangsa sendiri. "Untuk itu perlu kita meningkatkan sumber daya manusia," ucap dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler