Saturday, 2 Safar 1442 / 19 September 2020

Saturday, 2 Safar 1442 / 19 September 2020

Wayangan, Cara Asyik Sosiaslisasi Empat Pilar MPR

Ahad 15 Sep 2019 12:19 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Kampung Terbanggi Besar, Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (14/9) malam.

Sosialisasi Empat Pilar MPR di Kampung Terbanggi Besar, Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (14/9) malam.

Foto: mpr
Wayang merupakan bahasa yang dimengerti dan digunakan oleh masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pimpinan Badan Sosialisasi MPR RI Alimin Abdullah memuji kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR melalui pagelaran seni budaya. Khususnya wayang kulit.

Baca Juga

Menurutnya,  bahasa yang dipakai dalam dialog wayang merupakan bahasa yang dimengerti dan digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini memudahkan dalam penyampaian materi  sosialisasi.

"Materi yang disampaikan adalah sosialisasi empat pilar. Tapi masyarakat dengan antusias mengikutinya, karena bagi mereka, sosialisasi melalui pagelaran wayang adalah hiburan yang jarang ditemukan," kata Alimin Abdullah menambahkan.

Pernyataan tersebut disampaikan politisi asal Lampung, itu saat membuka Pagelaran seni budaya wayang kulit dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR. Acara tersebut berlangsung di lapangan sepak bola jalan VII, Dusun 4, Kampung Terbanggi Besar, Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (14/9) malam.

photo
Sosialisasi Empat Pilar MPR di Kampung Terbanggi Besar, Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah, Sabtu (14/9) malam.

Pertunjukan wayang tersebut mengetengahkan lakon Noroyono Winisudo oleh dalang Ki Joko Purwanto. Ikut hadir pada acara tersebut, Kepala Biro Hubungan Masyarakat MPR RI  Siti Fauziah.

Sosialisasi dengan metode wayang kulit, menurut Alimin sangat mudah diterima oleh masyarakat. Bahkan sosialisasi dengan wayang kulit adalah metode yang secara langsung bersentuhan dengan masyarakat. Lantaran terhibur, masyarakatpun  rela mengikuti acara tersebut meski harus begadang hingga pagi hari.

"Ke depan MPR harus dapat menambah porsi sosialisasi melalui wayang kulit. Metode ini jelas langsung berhubungan dengan masyarakat. Masyarakat terhibur, tujuan sosialisasi juga tercapai," kata Alimin lagi.

Selain menghibur, kata Alimin metode sosialisasi melalui wayang kulit juga memiliki makna yang sangat dalam. Karena turut menjaga dan melestarikan  warisan seni-budaya yang ditinggalkan nenek moyang.

Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah menyampaikan terimakasih karena apresiasi dan partisipasi masyarakat yang sangat besar dalam mendukung kegiatan wayang. Titi begitu dia biasa disapa, mengaku penonton pada acara tersebut merupakan salah satu yang terbesar, dalam perhelatan wayang yang pernah diselenggarakan selama ini.

"Saya dengar, terakhir di sini  ada wayang pada 2011, semoga kegiatan ini bisa menghapus kerinduan masyarakat terhadap seni wayang. Selain itu masyarakat juga bisa memberikan tontonan serta tuntunan tentang nilai Empat Pilar," kata Siti Fauziah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler