Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Friday, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Santri dan Pramuka Diajak Amalkan Pancasila

Kamis 01 Nov 2018 16:07 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

 HNW saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada 1700 Pramuka yang sedang mengikuti Perkemahan Pesantren Nasional (Perpenas) II yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.

HNW saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada 1700 Pramuka yang sedang mengikuti Perkemahan Pesantren Nasional (Perpenas) II yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur.

Foto: mpr
Pramuka bukan hal yang baru bagi Pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengajak santri dan pramuka untuk sama-sama mengamalkan Pancasila. Dia mengatakan hubungan antara Pramuka dan pesantren sudah terjalin sejak lama. Sebelum ada Pramuka ada gerakan kepanduan berasal dari organisasi Islam yang selanjutnya menjadi cikal-bakal Pramuka. 

“Contohnya Hizbul Wathan,” ujarnya.

Dia menceritakan, semasa dirinya nyantri di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, ikut dalam kegiatan Pramuka bahkan mempunyai sertifikat sebagai pelatih. 

“Pencipta hymne adalah Husein Mutahar, ia seorang habib”, ucapnya.

Hal demikian diungkapkan HNW saat melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR kepada 1700 Pramuka yang sedang mengikuti Perkemahan Pesantren Nasional (Perpenas) II yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, 1 hingga 3 November 2018. Para Pramuka itu merupakan santri dari pesantren yang terhimpun dalam Majelis Pesantren dan Ma’had Dakwah Indonesia (Mapadi).

Dari sinilah HNW mengatakan Pramuka bukan hal yang baru bagi Pesantren. Saat ini di lembaga pendidikan Islam itu tak ada yang tak mengadakan kegiatan Pramuka.

“Pesantren sangat terbuka bagi kegiatan Pramuka,” ujarnya.

Sejarah kepanduan yang dilahirkan dari ummat Islam dan keterbukaan pesantren bagi Pramuka, menurut HNW menunjukan antara santri, pesantren, dan Pramuka adalah satu kesatuan. “Untuk itu jangan dipecahbelah. Jangan menghadirkan konflik di antara mereka,” kata dia.

Dipaparkan, santri dan Pramuka mengajarkan hal yang sama. Mereka dididik untuk menjadi generasi yang mandiri, pekerja keras, menyukai persahabatan, dan mencintai alam. Untuk itu Perpenas yang diadakan pada awal November diakui sebagai momentum yang tepat apalagi para santri selepas mengikuti Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober dan menjelang Hari Pahlawan 10 November. Acara itu sebagai bukti hubungan antara pesantren dan santri dengan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sudah selesai.

HNW mengajak santri yang juga Pramuka ikut menyosialisasikan Empat Pilar. “Ikut mensosialisasikan dengan mengamalkan yang baik.  “Bila ilmu tak diamalkan, seperti pohon tanpa buah,” kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler