Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Zulkifli Hasan Ajak KAHMI Doakan Indonesia

Kamis 31 May 2018 11:25 WIB

Red: Ani Nursalikah

Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Foto: MPR
KAHMI diminta menjaga persatuan agar bangsa tak mudah diadu domba.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di hadapan ratusan anggota KAHMI, Ketua MPR Zulkifli Hasan menceritakan dulu satu kapal berbendera VOC masuk ke perairan nusantara. Dampak dari masuknya kapal kayu itu disebut sangat luar biasa.

"Indonesia dijajah selama 350 tahun," ujarnya saat buka puasa bersama, Rabu (30/5).

Dari sejarah masa lalu, Zulkifli mengandaikan bagaimana kalau yang datang orang satu pulau. Untuk menangkal sejarah masa lalu yang kelam dan tak terulang membuat Zulkifli menyebut bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tegas dan amanah.

"Pemimpin yang mampu menegakkan kedaulatan bangsa," ujarnya.

Sebagai organisasi yang secara kuantitas dan kualitas bisa dibanggakan, Zulkifli yang juga merupakan alumni HMI, mengajak KAHMI ikut menjadi pelopor persatuan dan kesatuan agar bangsa ini tak mudah diadu domba seperti pada masa lalu.

photo

"Peran KAHMI sangat dibutuhkan karena alumninya ada di mana-mana," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu dirinya senang menjadi tuan rumah buka puasa yang dihadiri 500 anggota KAHMI. "Kemarin kita buka puasa dengan alumni Menwa dan organisasi wanita Islam," ujarnya.

Dalam buka puasa yang juga dihadiri Gubernur Jakarta Anies Baswedan, mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo, mantan ketua DPR Akbar Tanjung, dan mantan ketua MPR Amien Rais, pria asal Lampung itu mengajak semua berdoa agar negeri ini tetap diberi kekuatan oleh Allah.

photo

Dalam sambutannya, Koordinator Presidium KAHMI Siti Zuhro mengatakan belakangan ini warga bangsa semakin terusik karena penegakan hukum dan keadilan yang tak kunjung tiba. Untuk itu KAHMI harus kritis mencermati hal demikian. Sebagai salah satu elemen bangsa, dirinya mengajak KAHMI mampu menjadi penggerak dinamika bangsa.

"Kita jangan tidur agar kita tak terlena," katanya.

Dirinya melihat proses kebangsaan yang terjadi tak sesuai dengan empat pilar MPR. "Untuk itu kita harus meluruskan agar republik ini tak menjadi bangsa yang lemah," kata perempuan asal Jember, Jawa Timur itu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler