Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Senin, 9 Zulhijjah 1439 / 20 Agustus 2018

Pesan Ketua MPR Sikapi Tuduhan Radikal pada Islam

Ahad 06 Mei 2018 22:08 WIB

Red: Ani Nursalikah

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhasan) dalam acara Tasyakuran Milad ke-90 Tarbiyah Perti dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, di ballroom Twin Plaza Hotel Jakarta, Sabtu (5/5).

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhasan) dalam acara Tasyakuran Milad ke-90 Tarbiyah Perti dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, di ballroom Twin Plaza Hotel Jakarta, Sabtu (5/5).

Foto: MPR RI
Sangat ngawur jika sampai ada yang mempersepsikan Islam intoleran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemerdekaan Indonesia diperoleh atas izin Tuhan yang Maha Esa berkat perjuangan keras berbagai elemen bangsa. Salah satunya adalah perjuangan para ulama dan umat Islam. Pekik takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar dibarengi dengan teriakan merdeka, sahut-menyahut menggema mengiringi perjuangan.

Bahkan, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa fenomenal jihad untuk perjuangan merebut kemerdekaan melawan penjajah. Seorang tokoh Islam Mohammad Natsir mengeluarkan mosi integral sehingga Indonesia kembali ke NKRI tidak lagi berserikat atau negara bagian.

Hal tersebut diungkapkan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhasan) saat memberikan keynote speech di hadapan ratusan pimpinan dan anggota Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dalam acara Tasyakuran Milad ke-90 Tarbiyah Perti dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, di ballroom Twin Plaza Hotel Jakarta, Sabtu (5/5).

photo

Melihat fakta sejarah tersebut, lanjut  Zulhasan, maka sangat keliru dan sangat ngawur jika sampai ada yang mempersepsikan Islam sebagai intoleran dan radikal.

"Pekikan takbir Allahu Akbar memang sejak dulu digunakan sebagai pemompa semangat pejuang Indonesia melawan penjajah.  Jadi dimana logikanya kalau ucapan takbir itu adalah radikal tidak benar itu?  Bahkan era kebangkitan Islam seperti Persis, Perti, SI, Al Wasliyah disusul Muhammadiyah, NU dan lainnya, yakni kesadaran untuk maju dalam organisasi dan perekonomian sudah muncul jauh sebelum kebangkitan nasional seperti Boedi Oetomo dan Sumpah pemuda lahir," ujarnya.

Berbicara soal Indonesia dan penjajah dan lamanya indonesia dijajah, menurut Zulhasan, itu tak lepas dari kurang awasnya rakyat Indonesia terhadap siasat adu domba penjajah. Indonesia mudah sekali diadu domba antarsesama sehingga penjajah yang tadinya hanya berdagang menjadi tergoda menjajah.

"Alhamdulillah lama-kelamaan kesadaran mulai muncul dengan banyak organisasi Islam dan kebangkitan nasional. Kesadaran itu semestinya terus terjaga hingga kini apalagi di tahun politik," ujarnya.

Zulhasan mengajak Perti dan seluruh umat Islam dan elemen bangsa lainnya memperkuat persatuan serta kesatuan bangsa.  Jangan sampai mudah lagi diadu domba hingga terkoyak dan terjajah seperti dulu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler