Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Hidayat: Kabar Hoax Mengisi Hingga Kamar Tidur Melalui Gawai

Sabtu 29 April 2017 23:31 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid.

Foto: dokumentasi mpr

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Globalisasi dan modernisasi di era kemajuan teknologi global yang begitu pesat dan tidak bisa dibendung, menurut Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, memiliki dampak baik dan buruk. Dampak buruknya menjadi tantangan semua elemen masyarakat untuk menghadapinya tak terkecuali para da'i.

"Dampak buruk globalisasi dan modernisasi yang sangat berdampak luas adalah teknologi dan media informasi atau media sosial. Berita-berita dan kabar-kabar hoax terus mengisi ruang-ruang kita hingga ke kamar tidur melalui gadget modern termasuk stigma radikalisme yang diarahkan ke Islam secara keseluruhan," kata Hidayat di hadapan para da'i peserta Dialog interaktif Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi) Sumatra Barat dalam rangka memperingati Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW dengan tema 'Dakwah dan Tantangan Global', di Hotel Bumi Minang, kota Padang, Sumatra Barat, Sabtu (29/4).

Diutarakan Hidayat, begitulah kehidupan. Rasulullah pun dahulu mengalami pula dampak globalisasi, apalagi di era Rasululah dulu ada dua kekuatan besar Persia dan Romawi. Kekuatan-kekuatan besar tersebut berupaya melakukan penetrasi pengaruhnya kepada dakwah Rasulullah tapi tidak sekalipun menggoyahkan Rasulullah.

"Perilaku Rasulullah wajib dijadikan teladan kita dalam menghadapai tantangan global.  Para da'i harus sadar akan hal ini dan terus berdakwah untuk mengeliminir bahkan menghilangkan stigma radikal kepada Islam," ujarnya.

Dikatakan Hidayat, patut disyukuri di era globalisasi ini, rakyat Indonesia menghadapi era keterbukaan, kuatnya informasi tapi sekaligus kuatnya hak-hak individual.

Salah satu pelaksanaan hak-hak tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang tidak terduga. Contohnya, seorang Presiden Austria yang terpilih melalui mekanjsme terbuka yang melawan arus besar di Eropa dan Amerika yakni kelompok-kelompok yang anti imigran,  anti Islam, yang ingin memprotek penduduk asli.

"Bahkan dalam pemililan PM Belanda, partai Geerts Wilders yang terkenal menjual anti-Islam dan anti-imigran kalah. Artinya, gerakan-gerakan anti Islam, anti imigran dan lainnya sudah mulai terpinggirkan," imbuhnya.

Di Indonesia, soal perbedaan sebenarnya sudah selesai dan telah dijelaskan secara gamblang pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. "Para aktifis dakwah para da'i da'i mesti memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat Indonesia dan dunia.  Dakwah itu bukan memaksa orang masuk Islam. Dakwah itu juga bukan dalam rangka menjustifikasi kejahatan. Dakwah itu adalah untuk membuka jalan, silahkan Anda mau menerima atau tidak tapi inilah suara Islam, dengarkan suara Islam," kata dia mengakhiri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler